Analis: Jika Harga Pertalite hingga LPG 3 Kg Naik, Inflasi akan Tinggi dan Warga Miskin Meningkat

Kenaikan harga satu jenis energi saja, seperti misalnya LPG 3 kg, akan sangat mempengaruhi daya beli 40 persen kelompok dengan pengeluaran terbawah.

TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
ILUSTRASI Bahan bakar gas LPG 3 kilogram. 

TRIBUNTERNATE.COM - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira meminta agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM jenis Pertalite, LPG 3 kilogram, dan tarif dasar listrik (TDL) pada saat ini.

Alasannya, menurut Bhima, karena kenaikan harga satu jenis energi saja, seperti LPG 3 kg, akan sangat mempengaruhi daya beli 40 persen kelompok dengan pengeluaran terbawah.

Selain itu, apabila pemerintah bersikeras menaikkan harga BBM Pertalite dan LPG 3 kg secara bersamaan, maka inflasi diperkirakan akan menembus 5 persen di tahun 2022.

Dengan begitu, lanjut Bhima, tingkat kemiskinan di Indonesia pun bisa meningkat.

"Mau tidak mau masyarakat kelas bawah akan tetap pakai lpg subsidi karena kebutuhan utama. Akhirnya berimbas kemana-mana termasuk naiknya angka kemiskinan," kata Bhima dikutip dari Tribunnews.com, Jumat (15/4/2022).

Bhima menyebut, pemerintah harus mewaspadai gejolak sosial ke depan, karena bisa saja terjadi konflik horizontal antar masyarakat seiring ketimpangan yang makin lebar antara the haves dan the have-nots yang memicu krisis multidimensi.

"Ongkos pemulihan ekonominya akan sangat mahal. Sri Lanka saja sudah mundur kabinetnya, dan Kolombia tahun lalu juga menteri keuangan sampai mengundurkan diri karena tidak mampu kendalikan inflasi," ujarnya.

Baca juga: Ada Sinyal Tarif Listrik Bakal Naik, Susi Pudjiastuti: Sebaiknya Setiap Kenaikan Disertai Penjelasan

Baca juga: Harga Minyak Goreng Berbagai Merek di Alfamart dan Indomaret Kamis, 14 April 2022

Jika kenaikan harga energi terus terjadi, kata Bhima, masyarakat pun akan mengurangi konsumsi barang lain seperti menunda pembelian peralatan rumah tangga, barang elektronik, otomotif, pakaian jadi dan kebutuhan lain.

"Efek terburuk adalah penutupan pelaku usaha UMKM di sektor makanan minuman karena tidak kuat menanggung naiknya biaya produksi."

"Kalau UMKM gulung tikar, kita bisa perkirakan sendiri berapa banyak yang jadi pengangguran baru apalagi 97 persen serapan tenaga kerja ada di UMKM," tutur Bhima.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved