Singapura Seriusi Ancaman Pengikut Ustaz Abdul Somad soal Rencana Serangan Mirip Tragedi 9/11 di AS
Singapura menyebut bahwa pengikut Ustaz Abdul Somad telah menyerukan ancaman serius bagi negaranya, yakni mereka ingin menyerang layaknya tragedi 9/11
Alasan yang diberikan Somad dalam video YouTube yang diposting pada Rabu, adalah bahwa Singapura adalah "tanah Melayu" dan bagian dari Riau serta "Kerajaan Melayu Temasek".
"Oleh karena itu kedaulatan kami tidak relevan (dan) kami bukan negara yang terpisah dari sudut pandangnya," kata Shanmugam.
"Banyak pendukungnya, sebagian besar di Indonesia, merasa gusar. Mereka mengatakan Singapura 'tidak menghormati Muslim dan cendekiawan Islam'."
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia juga telah mendukung sikap Singapura, dan menyebutnya sebagai pelajaran dalam memerangi ideologi radikal yang dapat mengarah pada terorisme.
Shanmugam menggambarkan tanggapan pemerintah Indonesia sebagai sangat pantas dan sangat tepat.
"Indonesia menerima bahwa Singapura yang memutuskan siapa yang bisa masuk ke Singapura, benar, sama seperti Indonesia yang memutuskan siapa yang bisa masuk ke Indonesia; setiap negara yang memutuskan siapa yang bisa masuk ke negara itu. Aspek dasar kedaulatan," kata Shanmugam.
Shanmugam menambahkan bahwa mayoritas orang Indonesia "menyadari apa yang sebenarnya dilakukan Somad dan para pendukungnya".
Ia menyebutkan bahwa para pendukung ini tidak menghormati Singapura sebagai negara yang terpisah dan berdaulat.
"Saya bersyukur banyak orang Indonesia, baik pejabat maupun komentator, yang menolak klaim ini dan membela Singapura. Mereka tahu tudingan terhadap Singapura tidak benar," katanya.
"Saya telah mengatakan ini dalam banyak kesempatan, kami mengambil pendekatan tanpa toleransi dan pendekatan yang adil terhadap segala bentuk ujaran kebencian dan ideologi yang memecah belah."
"Dan itu tidak ditujukan pada individu tertentu, atau agama tertentu, atau kebangsaan tertentu. Posisi kami berlaku sama untuk semua," tegasnya.
(TribunTernate.com/Ron/Qonitah/Channel News Asia)