Media Asing Soroti Polemik Kandidat Calon Presiden dari PDIP dan Sikap Projo Dukung Penerus Jokowi
Media asing turut menyoroti polemik kandidat calon presiden dari Partai Indonesia Perjuangan (PDIP) dan sikap Projo yang dukung penerus Jokowi.
“Dalam hal ini, Projo bisa mengikuti kemanapun Pak Ganjar bersekutu,” ujarnya.
Baca juga: Nama Kandidat Capres PDIP Masih Dirahasiakan, Puan Maharani: Ada di Dalam Hati Ibu Ketum
Baca juga: Pakar Komunikasi Politik Nilai PDI-P Aneh: Ganjar Pranowo Kader Potensial tapi Malah Ditelanjangi
Pengamat mengatakan bahwa koalisi baru yang terdiri dari partai tertua Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) - bernama Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) - dapat mengakomodasi Ganjar sebagai calon presiden atau wakil presiden.
Di sana, Ganjar bisa mencalonkan diri dengan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, yang
elektabilitasnya di berbagai jajak pendapat masih rendah.
Budi mengatakan bahwa Projo belum memilih calon presiden untuk didukung, dan akan mengandalkan hasil dari proses konsultasi multi-stakeholder "demokratis, terbuka dan transparan" yang akan dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dari Juli hingga Maret tahun depan.
Budi menambahkan bahwa Projo akan terbuka untuk berkolaborasi dengan "partai politik mana pun".

Profesor Firman Noor, peneliti senior di Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, mengatakan bahwa jika KIB mendukung kandidat seperti Ganjar yang memiliki ideologi kontras dengan pendukung koalisi, ini akan semakin mengikis kohesivitas yang sudah lemah.
“Akan sulit bagi PAN dan PPP untuk menjelaskan kepada akar rumput mereka,” katanya merujuk pada partai-partai yang berhaluan Islam.
Basis pendukung Ganjar, katanya, ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah yang didominasi non-Muslim.
"Kesepakatan dapat dibuat di tingkat elit. Tetapi akan sulit untuk mengkonsolidasikannya di masyarakat," kata Budi.
Sebagai tambahan, Ganjar juga baru-baru ini dinobatkan sebagai salah satu dari tiga kandidat calon presiden potensial oleh partai terbesar keempat di Indonesia, NasDem, bersama dengan Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.
(TribunTernate.com/Qonitah)