Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Anak Petinggi Polda NTB Naik Mercy Tabrak Pelajar hingga Tewas, Pihak Korban Minta Ganti Rugi Musala

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Margasatwa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (12/3/2023) dini hari sekitar pukul 02.20 WIB.

Editor: Ifa Nabila
IST
Ilustrasi kecelakaan. Kecelakaan maut terjadi di Jalan Margasatwa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (12/3/2023) dini hari sekitar pukul 02.20 WIB. 

TRIBUNTERNATE.COM - Kecelakaan maut terjadi di Jalan Margasatwa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (12/3/2023) dini hari sekitar pukul 02.20 WIB.

Seorang anak petinggi Polda NTB, MMI (18), mengemudikan mobil Mercedes-Benz dan menabrak pelajar berinisial MSA (18) hingga tewas.

Saat itu, MSA menaiki sepeda motor bersama temannya, SB (18).

Baca juga: Siswi SMK Tewas Tertindih Truk yang Oleng, Korban Umur 16 Tahun Tersenggol dan Meninggal di Tempat

SB mengalami luka berat dan mendapat perawatan di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Ibu MMI, Ira, menyebut pihak keluarga MSA melayangkan sejumlah permintaan sebagai syarat untuk berdamai.

"Suatu malam ada WA mereka, telepon lah ke Rudi perwakilan keluarga kami. Tapi nggak diangkat, ya sudah kami diamkan," kata Ira saat dihubungi TribunJakarta.com, Minggu (2/4/2023) malam.

Ira mengatakan, keluarga MSA memaksa untuk bertemu.

Ira enggan menuruti permintaan itu dengan alasan sudah menunjuk kuasa hukum yang akan mendampingi anaknya.

"Maksa mau ketemu saya, buat apa ketemu saya. Karena kan anak saya sudah menunjuk kuasa hukumnya, anak saya sudah 18 tahun. Hitungannya sudah dewasa," ujar dia.

Singkat cerita, ia mengutus kuasa hukumnya untuk bertemu dengan keluarga MSA.

Dalam pertemuan itu, Ira menyebut pihak keluarga MSA melayangkan sejumlah permintaan yang membuatnya tersinggung.

"Ketemulah pengacara saya, kayak nego. Minta disekolahkan adiknya, minta bangun musala atas nama anak itu, minta diganti seharga Mercy. Rinciannya ada tuh, bikin selamatan sekian-sekian. Oh saya tersinggung di situ," ungkap Ira.

Ia menolak sejumlah permintaan tersebut. Sebab, ia mengaku tidak pernah mau untuk bernegosiasi.

"Ini belum ada proses sidik, lidik, dan kami kan tidak ada namanya bahasanya negosiasi untuk perdamaian, tidak ada," ucap dia.

Terkait permintaan keluarga MSA, Ira mengaku memiliki bukti berupa chat WhatsApp.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved