Darul Hunafa Weda, BIMAGO Gontor di Hutan Belantara Halmahera
Darul Hunafa Weda, BIMAGO Gontor di Hutan Belantara Halmahera, Maluku Utara
TRIBUNTERNATE.COM, WEDA - Ustadz Anas Salim memulai petualangan hidupnya pada tahun 1999 untuk belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, dengan berbagai keterbatasan.
Satu-satunya modal paling berharga adalah semangat membara yang dikobarkan ke dalam jiwanya oleh Almarhum Ustadz Haka Sofola, yang tak lain adalah pamannya.
Sang Paman adalah tokoh sederhana di Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Mengenyam pendidikan di Gontor selama lima tahun sejak 1969. Ustadz Haka Sofola selama nyantri dididik langsung Mu’assis Pondok Gontor, KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi.
Baca juga: Jadi Tuan Rumah Bukber IKPM Gontor Maluku Utara, M Rahmi Husain Cerita Suka Duka Mondokkan Anak
Dalam diri Ustadz Haka mengalir jiwa-jiwa keikhlasan dan kesederhanaan yang beliau bawa hingga akhir hayatnya.
Weda adalah daerah terpencil di Pulau Halmahera, secara geografis penduduk Weda tinggal di pesisir pantai dengan rumah-rumah kayu panggung di atas air laut.
Sekeliling rumah warga dulunya hutan bakau yang kini banyak diurug tanah dan bebatuan dari pegunungan dijadikan bangunan permanen batu bata.
Disitulah keluarga besar Ummaywal tinggal termasuk keluarga Ustadz Haka Sofola dan Ustadz Anas Salim.
Daratan Weda adalah hutan belantara berisikan kayu-kayu besar. Masyarakat sekitar menyebutnya kayu besi. Perkebunan kelapa/kopra/ dan tanaman Pala juga ada, hasil dari eksplorasi hutan yang dibuka warga Weda.
Ustadz Haka Muda mengenal Gontor saat datang seorang Ustadz yang baru pulang dari Gorontalo pada tahun 60 an.
Sang Ustadz mengajar di Weda usai belajar dari KH. Imam Badri yang kala itu diutus Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi untuk mengabdi dan berdakwah ke Gorontalo.
Dari cerita ustadz dari Gorontalo itu, Ustadz Haka muda minat mondok ke Gontor. Namun beliau mengalami keterbatasan ekonomi untuk belajar ke Gontor.
Namun tekadnya kuat, Ustadz Haka muda berjuang masuk ke hutan belantara Halmahera Tengah membawa kapak mencari kayu besi.
Selama kurang lebih satu tahun beliau keluar masuk hutan mengumpulkan kayu besi.
Setelah dirasa cukup, kayu besi diangkut ke kapal kayu milik nelayan dan pedagang asal Buton yang biasa sandar di pesisir pantai Weda.
Kapal kayu ini membawa barang dagangan kebutuhan sehari-hari dari Surabaya ke Weda dan kembali ke Surabaya dengan membawa kayu besi.
Singkat cerita, kayu besi milik Ustadz Haka pun berlayar menuju Surabaya bersama Ustadz Haka di dalam kapal kayu.
Setelah tiga bulan berlayar, kapal kayu sandar di Surabaya, kayu besi dijual di Surabaya.
Ustadz Haka akhirnya punya bekal menuju Ponorogo untuk belajar ke Gontor hasil dari jualan kayu besi.
Ustadz Haka belajar di Gontor di bawah gemblengan langsung Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi selama lima tahun.
Pulang ke Weda tidak setiap tahun, pulang ketika bekalnya sudah habis.
Saat liburan tiba, Ustadz Haka pulang ke Weda untuk kembali masuk hutan Halmahera Tengah mencari kayu besi, Ijin ke Kiai masuk hutan selama tiga bulan.
Kayu besi lalu dijual lagi di Surabaya, begitu seterusnya.
Dengan cara ini, Ustadz Haka membiayai sendiri dirinya selama belajar di Gontor.
Selesai belajar di Gontor, Ustadz Haka kembali ke Weda mengajar ngaji anak-anak kampung pesisir dan berdakwah ke masyarakat Weda.
Beliau sangat meyakini, hanya pendidikan yang mampu mengentaskan masyarakat Weda dari keterbelakangan.
Menyiapkan Kader
Kurang lebih selama 25 tahun, Ustadz Haka berdakwah di Weda, membimbing masyarakat Weda mengenal ayat-ayat Allah.
Beliau juga mengajar di daerah Lelilef, kawasan Weda yang saat ini jadi sorotan nasional, disitu kini dibangun kawasan tambang Nikel besar di bawah pengelolaan PT IWIP sejak 2018.
Masih ada peninggalan Ustadz Haka di tengah hingar bingarnya kawasan pengelolaan industri logam berat itu.
Beberapa tokoh dan guru ngaji di Lelilef adalah murid-murid Ustadz Haka. Termasuk masjid besar yang terletak di pintu masuk kawasan tambang dikelola murid Ustadz Haka.
Lelilef dulunya adalah kawasan terpencil dan sepi. Jauh dari keramaian, jalanan tak beraspal, dalam sehari untung kalau ada satu mobil yang lewat.
Kini Lelilef jadi seperti kota metropolitan. Pada tahun 2021, terdapat 24.000 pekerja lokal dari berbagai daerah, tahun 2022 PT IWIP menargetkan 36.000 pekerja lokal, belum lagi pekerja asing yang kini mulai tampak keluar masuk Maluku Utara.
Hasil tambang nikel dari Lelilef ini menjadikan Maluku Utara sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia pada tahun lalu (menurut data BPS), dan negara menyebut warga Maluku Utara sebagai warga paling bahagia. Meski kenyataan di lapangan masih dipertanyakan.
Kurang lebih 20 tahun, Ustadz Haka berdakwah di Lelilef, beliau juga membuka kawasan hutan sebelum ditemukannya barang mahal bernama Nikel yang kini jadi rebutan semua negara di dunia ini untuk dijadikan bahan baku pengganti energi minyak bumi.
Saat terjadi rebutan tanah di kawasan sekitar tambang di Lelilef, Ustadz Haka pilih mengalah untuk tidak ikut berebut tanah.
Padahal beliau punya hak memiliki tanah tak bertuan itu karena beliau lah yang dulunya membuka kawasan hutan Lelilef.
Namun, keikhlasan dalam berjuang menegakkan Kalimatullah lebih berarti daripada materi milyaran yang sudah tampak di depan mata.
Menurut Ustadz Anas, Ustadz Haka selalu melarang kami berebut tanah dengan alasan, “itu tidak pernah diajarkan Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi”.
Ustadz Haka mulai menyadari pejuang harus ada penerusnya, seperti Gontor yang memiliki program terencana dengan sistem kaderisasi.
Diputuskan lah keponakan beliau bernama Anas Salim untuk dipondokkan ke Gontor. Qodarullah, selama hidup, Ustadz Haka tidak dianugerahi keturunan.
Anas Salim pun mulai digembleng persiapan masuk Gontor sejak 1998. Gemblengan dilakukan dengan mengajari Anas Salim pelajaran-pelajaran yang jadi syarat sebelum diterima sebagai santri Gontor. Katakanlah seperti BIMAGO saat ini.
Tapi, jangan bayangkan BIMAGO ala Ustadz Haka diajarkan di kelas ber AC atau guru privat datang ke rumah seperti calon santri Gontor saat ini. Ustadz Haka mengajari Anas pelajaran BIMAGO di dalam hutan belantara Halmahera Tengah.
Anas Salim bercerita, Ustadz Haka mengajaknya masuk hutan selama lima hari, tidur di dalam hutan. Kamis sore keluar hutan agar besoknya di hari Jumat bisa shalat Jumat bersama penduduk kampung setempat. Sabtu pagi keesokan harinya kembali lagi ke hutan.
Di dalam hutan, Ustadz Haka mengajari Anas Salim pelajaran baca tulis Al-Qur’an, imla’, tata cara ibadah shalat, doa-doa pendek dan pelajaran ujian masuk Gontor seperti BIMAGO.
Di saat bersamaan, Ustadz Haka tetap menjalankan rutinitasnya memegang kapak, membuka lahan perkebunan di hutan untuk ditanami kelapa. Rutinitas keluar masuk hutan dijalani selama satu tahun.
Setelah satu tahun, Anas Salim lalu didaftarkan ke Gontor. Lima tahun belajar di Gontor, Anas Salim merantau mencari pengalaman hidup di beberapa daerah di Jawa.
Kurang lebih 20 tahun merantau, Ustadz Anas Salim pulang ke Weda membantu Ustadz Haka mendirikan Pesantren Darul Hunafa yang terletak di tengah kota Weda, berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektare.
Tak lama setelah Darul Hunafa berdiri, Ustadz Haka meninggal dunia. Tongkat estafet perjuangan pesantren dilanjutkan Ustadz Anas Salim.
Dua tahunan terakhir, Darul Hunafa dengan berbagai keterbatasannya akhirnya mampu menjalankan program belajar mengajar. Santri mukim 6 orang dan ratusan siswa-siswi Madrasah Diniyah Taklimiyah Darul Hunafa.
Di bawah kepemimpinan Ustadz Anas Salim, Darul Hunafa menjalin kerjasama dengan beberapa pesantren di Jawa yang terafiliasi dengan Gontor diantaranya Pesantren Darul Istiqomah, Bondowoso, Pesantren Modern Tazakka, Batang, Pesantren Alumni Gontor dan Pondok Modern Darul Ihsan, Seram, Maluku Tengah, Pimpinan Ustadz Abdurrahim Yapono.
Kerjasama dilakukan terutama dalam hal pengiriman guru pengabdian dari sejumlah pesantren di Jawa itu untuk mengajar di Darul Hunafa, Weda. Juga, dikirim beberapa anak-anak kader Darul Hunafa untuk belajar di beberapa pesantren di Jawa tersebut.
Darul Hunafa kini jadi satu-satunya pesantren dengan infrastruktur seadanya dan sederhana di Weda yang berjuang mengangkat derajat warga Weda.
Darul Hunafa berjuang di tengah hiruk pikuk puluhan ribu orang-orang yang berdatangan ke Weda dengan tujuan mengeruk Nikel dari belantara hutan Halmahera.
Baca juga: Momen Lebaran 2023, Dua Kiai Gontor Silaturahim ke Dua Jenderal Purnawirawan Polisi
Musolla Darul Hunafa dari papan kayu dan beberapa asrama bertembok yang sudah mulai lumutan.
Namun semangat mereka tak pernah padam untuk mengangkat derajat warga Weda dan membangun peradaban.
Catatan Perjalanan Silaturrahmi IKPM Gontor Cabang Maluku Utara ke Darul Hunafa Weda, 27-28 Mei 2023. (*)
Karena Dinyatakan Tidak Lulus, Belasan Calon PPPK T.A 2024 Mengadu ke DPRD Kepulauan Sula |
![]() |
---|
Disperindagkop Halmahera Timur Perketat Pengawasan Penjual Minyak Tanah |
![]() |
---|
Tim Labfor Polda Sulawesi Utara Olah TKP Rumah Terbakar di Desa Kilong Taliabu |
![]() |
---|
Soal Temuan BPK di Bagian Kesra Tidore, Sahnawi Ahmad Bilang Begini |
![]() |
---|
Gubernur Maluku Utara Sherly Laos Sabet Baznas Award 2025: Bukti Dukungan Kuat Gerakan Zakat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.