Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Ungkap Dampak Destruktif dari Indikasi Politik Dinasti Jokowi, Pengamat: Merusak Demokrasi

Bivitri menekankan bahwa di Indonesia saat ini telah muncul dinasti politik Jokowi. Dan dinasti ini cepat atau lambat pasti akan merusak demokrasi.

Youtube/Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo 

TRIBUNTERNATE.COM - Relasi kekerabatan dalam aspek politik Tanah Air yang tersebar di berbagai institusi mendapat tanggapan dari Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti.

Menurut Bivitri, relasi kekerabatan dalam politik hingga mengarah ke praktik politik dinasti terlihat, salah satu contohnya dari Joko Widodo.

Lebih lanjut lagi, Bivitri menyebut bahwa praktik politik dinasti yang saat ini mencengkeram Tanah Air memiliki dampak destruktif.

Yakni, dapat merusak demokrasi. Sebab, kontrol terhadap kekuasaan akan melemah.

"Kontrol kekuasaan akan menjadi lemah apabila relasi-relasi kekerabatan itu ada dalam institusi-institusi politik. Karena yang satu akan permisif pada institusi, atau bahkan membukakan jalan kerabatnya yang menduduki jabatan tertentu," kata Bivitri dalam diskusi publik yang bertajuk Dinasti Politik Jokowi di UIN, Jakarta, dikutip pada Rabu (4/10/2023).

Dia mencontohkan apa yang terjadi dalam Pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Jokowi merupakan pimpinan dalam cabang kekuasaan eksekutif, sementara cabang kekuasaan lainnya, yudikatif yakni Mahkamah Konstitusi (MK) diketuai oleh adik ipar Jokowi, yaitu Anwar Usman.

Buntutnya, kata Bivitri, MK sedikit bisa disetir oleh ipar Jokowi itu.

"Kalau kita bicara etik harusnya Ketua MK (Anwar Usman) mundur. Karena ada benturan kepentingan," ujarnya.

Diketahui saat ini juga sedang bergulir gugatan batas usia cawapres. Sejumlah pihak menggugat usia cawapres diturunkan menjadi 35 tahun, dari sebelumnya 40 tahun.

Gugatan lain juga meminta syarat capres atau cawapres sudah pernah menjadi kepala daerah.

Baca juga: Kisah Bripka Joko, Polisi yang Nyambi Jadi Penggali Kubur Sejak 23 Tahun Lalu: Buat Cari Bekal Mati

Baca juga: Dugaan Kasus Korupsi di Kementan RI Masuk Tahap Penyidikan, Kapan Syahrul Yasin Limpo Diperiksa KPK?

Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) (YouTube/Sekretariat Presiden)

Jika itu dibiarkan, maka menurut Bivitri akan memberikan jalan bagi praktik korupsi. Bahkan bisa lebih parah pada muara pembajakan terhadap demokrasi.

Bivitri menjelaskan pembajakan demokrasi lewat cara demokratik adalah lewat cara-cara prosedural yang seakan-akan sesuai aturan.

"Nancy Bermeo bilang, 'democratic backsliding' yaitu demokrasi yang dibajak tetapi dengan cara yang demokrasi," katanya.

Bahaya lain dinasti politik juga membuat konsentrasi kekuasaan hanya tersebar di beberapa titik. Kekuasaan akhirnya hanya dimiliki lingkaran orang-orang yang sama.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved