Rabu, 22 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Euro 2024

Euro 2024 dan Copa America: Ketidakpastian Itu Indah

Jika keindahan total football Belanda adalah by design, keindahan sepakbola Brasil (jogo bonito) adalah warisan budaya nasional.

dokumen pribadi
dr Willy Kumurur 

Padahal saat itu, Brasil adalah juara bertahan. Kemenangan yang sekaligus menghadirkan keindahan.

Keindahan kiranya tak hanya monopoli Belanda karena Brasil pun memiliki jogo bonito.

Jika keindahan total football Belanda adalah by design, keindahan sepakbola Brasil (jogo bonito) adalah warisan budaya nasional.

Karena jogo bonito lahir dari anak-anak miskin yang dibanjiri dengan mimpi-mimpi indah dan angan-angan kolektif untuk menyamai Pele, Zico, Romario, Bebeto, Ronaldo dan Ronaldinho.

Lihatlah anak-anak Samba yang mondar-mandir di gelanggang hijau semaunya, mendemonstrasikan ketrampilan individu sambil memelihara kebersamaan ditambah faktor mistis, menari-nari dengan indah sambil menciptakan gol.

Tak ada peñata koreografi di tim Brasil, namun kebebasanlah yang menuntun mereka bermain, di mana keindahan hadir sebagai akibatnya.

Dua puluh tahun kemudian, pasukan "Samba" menuntaskan dendamnya dengan membabat "Oranje" dengan skor 3-2, di perempat final Piala Dunia 1994.

Penentu kemenangan Tim Samba adalah Branco lewat golnya pada menit ke-81.

Sebelum gol itu lahir, Brasil sudah memimpin 2-0 melalui gol Romario dan Bebeto, tetapi Belanda membalasnya berkat gol indah Dennis Bergkamp dan Aron Winter. Brasilpun menang dengan indah.

Namun keindahan Oranye dan Samba, mungkin tinggal kenangan.

Sayang sekali, tim Belanda di Euro 2024 gagal menampilkan keindahan, malah bersama Prancis menyodorkan permainan membosankan.

Publik bola dunia masih tetap memimpikan untuk menyaksikan Dutch “total football” versus Brazil’s “beautiful game” di Euro 2024 dan Copa America 2024.

Para seniman membutuhkan sebuah kanvas polos sebagai tempat menuangkan ide untuk menghadirkan lukisan indah.

Mereka cenderung untuk mengatakan bahwa kanvas tersebut mempunyai potensi untuk menyentuh hati tentang "permenungan", "ketiadaan", atau sesuatu yang melambangkan "kesendirian."

Dan, jika gelanggang permadani hijau di Jerman dan Amerika Serikat, tempat berlangsungnya Euro 2024 dan Copa America 2024, dianggap sebagai kanvas, kita masih tetap berharap bahwa tim sepakbola Eropa dan Amerika Latin masih tetap rindu melukis kanvas itu dengan “sesuatu yang indah.”

Jika hal itu ternyata hadir, maka benarlah John Keats, ketika ia melanjutkan sajaknya tentang keindahan: its loveliness increases; it will never pass into nothingness (keanggunannya semakin bertambah; dan takkan pernah menuju ke ketiadaan).****

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved