Liputan Wisata
Berkunjung ke Keraton Kesultanan Bacan di Halmahera Selatan Maluku Utara
Bangunan keraton tersebut sekilas mirip rumah tinggal biasa. Namun gaya arsitekturnya masih menunjukkan gaya bangunan Kolonial Belanda.
Penulis: Jumadi Mappanganro | Editor: Jumadi Mappanganro
BERKUNJUNG di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, rasanya belum lengkap jika tak menyempatkan mampir di Keraton Kesultanan Bacan.
Maka saat tiba di Labuha, ibu kota Halsel, saya pun mengontak Nurhidayat Hi Gani.
Saya lebih akrab menyapanya Anto. Dia jurnalis TribunTernate.com yang bermukim di Pulau Bacan.
Dengan bantuan Anto, saya diantar naik sepeda motor ke Keraton Kesultanan Bacan di Desa Amasing Kota, Kecamatan Bacan.
Ternyata hanya sekira 2,2 km dari Hotel Janisy, tempat kami menginap di Jalan Tomori, Desa Labuha, Kecamatan Bacan.
Jika dari Bandara Oesman Sadik berjarak kurang lebih 4 km atau 16 km dari Pelabuhan Babang.
Langit cerah saat kami tiba di keraton ini, Selasa (8/10/2024) siang.
Namun pagar keraton saat itu tertutup. Kami tak bisa masuk.
Jadi saya hanya bisa memandang keraton tersebut dari balik pagar besi bercat putih
Beruntung, pagarnya berupa teralis dan tingginya hanya sekitar 1 meter.
Jadi pengunjung bisa leluasa melihat halaman dan bagian depan keraton.
Sebagai penanda bahwa bangunan tua itu adalah keraton, terdapat dua papan informasi bertuliskan Keraton Sultan Bacan.
Salah satu papan informasi itu tertulis juga sejarah singkat Keraton Sultan Bacan.
Penanda lain, adanya batu berukuran besar dipajang di halaman depan. Tanpa atap pelindung.
Batu tersebut dominan warna coklat. Salah satu sisinya terlihat bekas pecahan. Warnanya hijau.
"Itulah batu bacan yang terkenal," ujar Anto menjelaskan batu yang sempat banyak diburu para pecinta batu akik.
Katanya, beratnya 1,5 ton. Ditemukan di Desa Palamea, Pulau Kasiruta.
Menurut catatan sejarah, awalnya Kesultanan Bacan berdiri sejak 1322 Masehi di Pulau Makian.
Khawatir ancaman letusan gunung berapi Kie Besi, keraton dipindahkan ke Pulau Kasiruta.
Baik Pulau Makian maupun Pulau Kasiruta saat ini masih tercatat dalam wilayah administrasi Halsel.
Di Pulau Kasiruta, Keraton Kesultanan Bacan bertahan hingga empat sultan memerintah.
Barulah setelah itu Keraton Kesultanan Bacan pindah ke Pulau Bacan hingga sekarang.
Meski pusat pemerintahannya berada di Pulau Bacan, namun wilayah kekuasaannya disebut hingga daerah Papua Barat.
Kesultanan Bacan banyak berperan dalam proses masuknya Islam di bumi Papua.
Kesultanan Bacan juga disebutkan tidak pernah jatuh ke tangan penjajah Belanda.
Dalam sejarahnya, kedua pihak hanya pernah memiliki hubungan dagang.
Namun kekuasaan Kesultanan Bacan pun dihapus setelah Indonesia merdeka pada 1945.
Peninggalan Kesultanan Bacan yang masih tersisa hingga saat ini adalah bangunan keraton yang kami kunjungi ini.
Bangunan keraton tersebut sekilas mirip rumah tinggal biasa.
Namun gaya arsitekturnya masih menunjukkan gaya bangunan Kolonial Belanda.
Bisa dilihat pada bagian atap dan jendela bangunan tersebut.
Bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang RI.
Saat ini Kesultanan Bacan dipimpin Dede Muhammad Irsyad yang dinobatkan sebagai Sultan Bacan ke-22 pada 29 April 2024.
Bergelar Sultan Muda Dede Muhammad Irsyad Maulana.
Saat dinobatkan, usianya baru 27 tahun dan belum beristri.
Ia adalah putra dari Abduurrahim Muhammad Gerry Ridwan Syah, Sultan Bacan ke-21 yang meninggal pada 27 Oktober 2023 di Ohio, Amerika Serikat.
Sayang, kali ini saya belum sempat bersua dengan Sultan Bacan ke-22.
Padahal jika sempat bersua, saya ingin menawarinya untuk podcast di keraton.
Setelah membuat video pendek dan foto-foto, saya kemudian beranjak ke Masjid Kesultanan Bacan.
Masjid telah berusia 1 abad lebih ini juga peninggalan Kesultanan Bacan yang masih tersisa saat ini. (jum)
| Kajati Maluku Utara Dorong Pembenahan Wisata Pulau Meti untuk Dongkrak Ekonomi |
|
|---|
| Komunitas Pemuda Sadar Wisata Minta Pemkab Halmahera Timur Serius Kembangkan Sektor Wisata |
|
|---|
| Pemuda Desa Loleolamo Dorong Master Plan Pulau Paniki Jadi Ikon Wisata Halmahera Timur |
|
|---|
| Taman Woyogula Ramai Dikunjungi Warga Halmahera Timur Pasca Lebaran |
|
|---|
| Pesona Mangrove Pantai Lopon: Primadona Wisata Halmahera Timur yang Membutuhkan Sentuhan Pembenahan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Keraton-Kesultanan-Bacan_1.jpg)