Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Timnas Indonesia

Kisah Pahit Patrick Kluivert saat Latih Klub Turki: Pengganti Shin Tae-yong Berbulan-bulan Ga Digaji

Calon pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, mengalami pengalaman pahit saat menjadi pelatih.

Editor: Ifa Nabila
Bolasport
Calon pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, mengalami pengalaman pahit saat menjadi pelatih. 

Dari 20 pertandingan itu, enam laga diantaranya adalah laga di Kualifikasi Liga Konferensi Eropa, dengan hasilnya adalah dua kemenangan, satu kali imbang dan tiga kali kalah.

Sementara 14 diantaranya merupakan laga di Liga Turki di mana hasilnya cukup baik dengan enam kemenangan, lima kali imbang dan tiga kali kalah dengan total mengumpulkan 23 poin (1,64 per pertandingan).

Kluivert saat itu membawa Adana Demirspor berada di posisi keempat Süper Lig Turki. Namun, kebersamaannya dengan klub Turki itu berakhir lebih cepat.

"Kami sebenarnya mengakhiri kontrak secara bersama-sama. Kami memainkan pertandingan terakhir melawan Sivasspor, dan sebelumnya kami bermain sangat baik."

"Untuk pertama kalinya, mereka lolos ke Eropa (UEFA Conference League). Sayangnya, kami kalah adu penalti melawan Genk, tapi setelah itu performa tim tetap konsisten," jelas Kluivert.

Meski begitu, ada insiden yang mulai mengganggu tim mulai.

"Presiden klub bahkan sampai turun ke lapangan, hampir saja dia memakai sepatu bola. Dia mulai mengambil selfie selama pemanasan dan melakukan siaran langsung di Instagram di lapangan."

"Itu mulai mengganggu saya dan staf, tapi kami berpikir, mungkin ini hal biasa di Turki, jadi kami biarkan saja," ujarnya.

Namun, situasi semakin sulit ketika masalah finansial mulai muncul.

"Satu bulan tidak digaji, dua bulan tidak digaji, tiga bulan tidak digaji. Hasil pertandingan tetap bagus, tapi kami tidak dibayar."

"Pada akhirnya, para pemain juga mulai mengeluh. Situasi ini menjadi dominan karena mereka juga tidak menerima gaji. Saya masih bisa bertahan tanpa gaji, tapi bagi pemain, ini menjadi beban besar," ungkap Kluivert.

Keadaan memburuk setelah kekalahan melawan Sivasspor, kekalahan ketiga klub dari 14 laga di Liga Turki musim itu. 

"Setelah itu, direktur teknis datang kepada kami dan mengatakan mereka tidak ingin melanjutkan kerja sama. Saya juga tidak mau melanjutkan, jadi kami sepakat untuk berpisah."

"Mereka merasa saya kehilangan kendali atas pemain, tapi sebenarnya tidak begitu. Kami berada di peringkat empat," tambahnya.

Kisah ini menggambarkan tantangan unik yang dihadapi Kluivert selama karir kepelatihannya, termasuk harus berurusan dengan manajemen klub yang bermasalah.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved