Senin, 13 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Kesultanan Ternate Gelar Pemotongan Rambut Mahkota Sultan

Ritual istimewa ini digelar bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1446 H atau Jumat (6/6/2025)

Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
Istimewa
TRADISI: Prosesi "WOA STANPA Sultan Ternate Hidayatullah Sjah" 

TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Setelah puluhan tahun tak dilaksanakan, Kesultanan Ternate kembali menggelar ritual adat sakral "Ondo-Stampa" atau yang juga dikenal dengan "Woa-Stampa", yakni pemotongan rambut mahkota Sultan Ternate.

Tradisi ini terakhir kali tercatat dilakukan secara terbatas pada masa almarhum Sultan Mudaffar Sjah.

Ritual istimewa ini digelar bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1446 H atau Jumat (6/6/2025), seusai pelaksanaan Salat Idul Adha.

Hal ini dikonfirmasi oleh Jou Hukum Soasio Kesultanan Ternate Gunawan Radjim, Jumat (6/6/2025.

Baca juga: Kanwil Kemenag Maluku Utara Salurkan Lima Ekor Sapi Kurban Sambut Idul Adha 1446 H

"Ondo-stampa atau woa-stampa adalah prosesi sakral pemotongan rambut mahkota sultan. Setelah sekian lama tak dilakukan, pada Idul Adha kali ini, Kesultanan kembali menghidupkan ritual tersebut," jelas Gunawan.

TRADISI: Prosesi
TRADISI: Prosesi "WOA STANPA Sultan Ternate Hidayatullah Sjah" (Istimewa)

Prosesi diawali dengan rangkaian ziarah dan ritual adat seperti Kololi Ngolo (mengelilingi laut) dan Kololi Kie (mengelilingi Gunung Gamalama), termasuk doa-doa di lokasi keramat di puncak gunung. Ini menjadi simbol pembersihan lahir dan batin sebelum masuk ke dalam inti acara.

Keesokan harinya, seusai Salat Idul Adha, prosesi dilanjutkan di dalam Kedaton Kesultanan Ternate. Ritual pemotongan rambut dilakukan oleh para perempuan dari Soa Ngare, di hadapan Sultan Hidayatullah Sjah dan perangkat adat kerajaan. Prosesi ini digelar tertutup, namun tetap dengan penghormatan tinggi kepada adat istiadat.

Setelah rambut mahkota dipotong, Sultan mengenakan kembali mahkota atau Stampa, lalu tampil di hadapan masyarakat khusus yang disebut Bala Kusus Se Kano-Kano , sebagai bentuk simbolisasi bahwa prosesi telah selesai dilaksanakan.

“Di masa Sultan Mudaffar Sjah, ritual ini pernah dilakukan, namun sangat tertutup. Bahkan hanya sekali saat beliau masih menjabat Sultan Muda."

"Kini, untuk pertama kalinya Sultan Hidayat melakukan prosesi secara resmi sejak penobatannya,” tambah Gunawan.

Dalam catatan sejarah Kesultanan Ternate, ritual ini merupakan bagian dari tradisi leluhur yang dahulu rutin dilakukan oleh para sultan terdahulu, namun sempat terhenti di era modern.

Baca juga: Kakanwil Sampaikan Progres Kinerja Pelayanan  Hukum kepada Menteri Hukum

Kini, dengan kembalinya ritual ondo-stampa, pihak kesultanan berharap tradisi ini dapat kembali dilaksanakan secara berkala setiap tahun, khususnya di bulan Zulhijjah atau bertepatan dengan Hari Tasyrik.

"Prosesi ini merupakan penanda bahwa mahkota telah disucikan melalui pemotongan rambutnya, dan Sultan mengenakannya sebagai simbol berakhirnya tahapan tersebut. Biasanya mahkota hanya dikenakan sekali dalam momentum penting seperti ini,” jelasnya.

Saat Sultan tampil dengan mahkota di pendopo Kesultanan, hal itu menjadi tanda bagi masyarakat bahwa ritual telah selesai dan mahkota telah ‘dibersihkan’ secara adat. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved