Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Menyapa Nusantara 2025

Mengembalikan Kedaulatan Teh Indonesia

Kontribusi perkebunan rakyat terhadap produksi nasional tak bisa dipandang sebelah mata, 35 persen dari total produksi teh kering Indonesia di 2020

Editor: Munawir Taoeda
Dok ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Buruh memetik pucuk daun teh di perkebunan teh PTPN XII, Wonosari, Malang, Jawa Timur, Sabtu (26/4/2025). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) produksi teh Indonesia menurun dari 165.000 ton pada tahun 2002 menjadi 122.700 ton pada 2023 dengan rata-rata produktivitas teh per hektare sebanyak 1.800 kg. 

Masalah lain adalah minimnya investasi dalam riset varietas unggul dan teknologi pascapanen. Padahal, teh Indonesia terkenal memiliki kandungan katekin (antioksidan) tinggi, yang seharusnya bisa menjadi keunggulan.

Sayangnya, pengolahan sering tidak optimal, dimana fermentasi dan penyangraian kurang cermat, sehingga aroma teh hitam kita kalah bersaing dengan produk India atau Sri Lanka. Dampaknya, harga teh Indonesia di pasar internasional relatif lebih rendah.

Dominasi ekspor dalam bentuk mentah menempatkan kita pada kasta rendah rantai nilai global, mirip pemasok bahan baku di era kolonial.

Ironisnya, sebagian teh olahan impor di supermarket kita bisa jadi berasal dari daun teh Indonesia yang diekspor murah, lalu kembali masuk setelah diproses di luar negeri.

Untuk membalik keadaan, dibutuhkan strategi nasionalisme ekonomi berbasis teh. Ada lima langkah yang mendesak, yaitu:

Pertama, memperkuat hilirisasi melalui investasi industri olahan, dari blending berteknologi tinggi hingga minuman kekinian bermerek Indonesia.

Kedua, melindungi pasar domestik dari impor murah dengan standar mutu dan kebijakan perdagangan yang adil.

Ketiga, menggelorakan kampanye “Cinta Teh Nusantara” seperti yang sukses pada kopi, dengan festival, wisata kebun teh, dan promosi budaya.

Keempat, memberi dukungan teknologi dan modal bagi petani serta UMKM agar bisa menghasilkan produk bernilai tambah sendiri.

Kelima, membangun identitas geografis (IG) untuk mengangkat citra teh khas daerah, misalnya Teh Java Preanger atau Teh Sumatera, yang bisa dijual sebagai produk premium di pasar global.

Pada akhirnya, meraih kedaulatan dari secangkir teh berarti menjadikan komoditas ini tuan rumah di negeri sendiri sekaligus pemain disegani di dunia.

(ANTARA/Slamet Hadi Purnomo, 21 Agustus 2025)

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved