PT Feni Haltim
Akademisi Nilai Langkah Penanganan Sedimentasi PT Feni Haltim Sudah Tepat
“Ini sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas sekaligus memberikan ruang bagi pelaksanaan asesmen dampak lingkungan,"
TRIBUNTERNATE.COM, MABA - Langkah cepat yang dilakukan PT Feni Haltim (FHT) dalam menangani insiden sedimentasi akibat curah hujan ekstrem mendapat apresiasi dari kalangan akademisi.
Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Aqshan Sadikhin, menilai respons awal perusahaan menunjukkan keseriusan dalam menjalankan tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab.
Menurut Aqshan, dalam setiap kejadian sedimentasi atau limpasan material akibat cuaca ekstrem, tindakan paling penting yang harus dilakukan adalah mengisolasi area terdampak dan menghentikan sumber pencemaran.
Baca juga: Momentum Idul Adha 1447 H, PT Feni Haltim Berbagi Hewan Qurban di Sekitar Kawasan Industri
“Langkah awal yang krusial adalah isolasi area terdampak dan penghentian sumber pencemaran. Respons cepat ini menunjukkan tata kelola lingkungan yang proaktif dan kesigapan dalam memitigasi dampak lanjutan,” ujar Aqshan saat di konfirmasi, Senin (1/6/2026).
Ia menjelaskan, penghentian sementara aktivitas di area terdampak merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) tanggap darurat lingkungan yang lazim diterapkan dalam kawasan industri terintegrasi maupun proyek pembangunan skala besar.
“Ini sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas sekaligus memberikan ruang bagi pelaksanaan asesmen dampak lingkungan secara menyeluruh,” katanya.
Aqshan menambahkan, kecepatan perusahaan dalam melakukan intervensi pascakejadian memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pemulihan lingkungan.
“Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin kecil area persebaran sedimen dan semakin cepat pula proses pemulihan ekologis dapat berlangsung,” jelasnya.
Dari sisi teknis, Aqshan menilai penggunaan geotube sebagai sarana pengendalian sedimen merupakan metode yang efektif dan telah banyak digunakan dalam berbagai proyek pengelolaan lingkungan.
“Geotube sangat efektif sebagai metode dewatering. Material permeabelnya mampu menahan partikel padat atau sedimen secara maksimal, sementara air yang telah terfiltrasi dapat mengalir keluar dengan lebih bersih,” terangnya.
Selain itu, pemasangan geotekstil dan program stabilisasi lereng juga dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Menurutnya, geotekstil berfungsi melindungi permukaan tanah dari erosi serta meningkatkan stabilitas lereng terhadap gerusan akibat hujan berintensitas tinggi.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan tanggul sedimentasi, sistem drainase, dan infrastruktur pengendalian limpasan air merupakan praktik yang lazim dan menjadi bagian dari Best Management Practices (BMP) dalam pengelolaan lingkungan industri modern.
“Kombinasi tanggul sedimentasi, drainase, dan geotube merupakan pendekatan berlapis yang diakui secara ilmiah sangat efektif dalam mengendalikan sedimen dalam jumlah besar,” ujarnya.
Dalam proses rehabilitasi lingkungan, Aqshan menyebut terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan perusahaan, mulai dari asesmen kerusakan awal, pembersihan sedimen, stabilisasi area sumber erosi, restorasi vegetasi, hingga monitoring berkala kualitas lingkungan.
Menurutnya, pemantauan kualitas air menjadi aspek yang sangat vital untuk memastikan kondisi perairan kembali memenuhi baku mutu lingkungan.
“Monitoring kualitas air secara berkala merupakan alat ukur objektif untuk memastikan parameter seperti tingkat kekeruhan dan Total Suspended Solids (TSS) kembali normal,” katanya.
Aqshan juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah sebagai regulator dan verifikator independen dalam mengawasi proses pemulihan lingkungan. Di sisi lain, pelibatan masyarakat lokal dinilai mampu memperkuat efektivitas rehabilitasi sekaligus membangun kembali kepercayaan publik.
“Transparansi perusahaan kepada masyarakat merupakan fondasi penting dalam prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Keterbukaan informasi dapat mencegah misinformasi dan memperkuat kepercayaan publik bahwa perusahaan bertanggung jawab penuh terhadap proses pemulihan,” ujarnya.
Terkait langkah-langkah yang telah dilakukan PT FHT, Aqshan menilai implementasi geotube, stabilisasi lereng, serta penghentian sementara aktivitas di area terdampak menunjukkan adanya komitmen perusahaan dalam memitigasi dampak lingkungan.
“Secara akademis, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab dalam menangani dampak yang terjadi,” tegasnya.
Ia berharap insiden tersebut dapat menjadi pelajaran penting bagi perusahaan mengingat kawasan industri ini masih dalam tahap konstruksi, sehingga sistem pengelolaan lingkungan ke depannya dapat dirancang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem sebelum operasi penuh berjalan.
“Ke depan, perusahaan perlu terus melakukan monitoring independen, memperkuat infrastruktur retensi air yang berbasis ketahanan iklim, serta menjaga komunikasi yang transparan dengan seluruh pemangku kepentingan agar proses rehabilitasi berjalan optimal dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/sendimentasi-pt-feni-haltim_32.jpg)