Senin, 27 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Menyapa Nusantara 2026

Semangat Kartini-kartini Kecil dari YPAC

SLB Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Jakarta Selatan mendorong kesetaraan hak bersekolah pada momen Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026

Editor: Munawir Taoeda
Dok ANTARA
Perayaan Hari Kartini di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri. 

Ella sendiri memiliki beragam minat, mulai dari melukis, membaca, hingga olahraga seperti menonton sepak bola dan bulu tangkis.

Dalam pelajaran, ia menyukai bahasa Inggris.Cita-citanya pun tak kalah mulia yakni menjadi seorang guru.

Ruang setara

Lebih dari sekadar tempat belajar, YPAC menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak untuk menemukan potensi mereka.

Bagi Yanto, harapan orangtua ke depan bukan hanya soal pendidikan anak, tetapi juga tentang kesetaraan.

Ia berharap anak-anak difabel memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkarya bersama anak-anak lainnya, serta didukung fasilitas umum yang semakin inklusif.

"Harapannya ada peluang kaum difabel bisa berkarya sama dengan yang lain. Fasilitas umum juga ditingkatkan, walau sekarang sudah baik, "kata Yanto.

Di tengah segala keterbatasan, anak-anak di YPAC menunjukkan satu hal yang sama yakni keberanian untuk bermimpi.

Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Jakarta Selatan mendorong kesetaraan hak bersekolah pada momen Hari Kartini yang jatuh pada 21 April.

"Kita membawa edukasi bahwa orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke bagaimanapun kondisinya, suku bangsa apapun, agama apapun, semuanya punya hak yang sama dan setara untuk sekolah, "kata Direktur Pelaksana YPAC, Agoes Abdoel Rakhman.

Agoes menilai bahwa momen Hari Kartini bukan sekadar peringatan emansipasi, melainkan cerminan perjuangan R.A. Kartini dalam mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh masyarakat.

Karena itu, momen ini menjadi kesempatan bagi para murid untuk menunjukkan bakat dengan mengenakan baju adat, sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air.

"Kami ingin menanamkan kepada murid dan orang tua agar dapat menambah sukacita sekaligus memperoleh nilai dari perayaan Hari Kartini, "ujarnya.

Adapun rangkaian lomba yang diikuti 70 peserta yakni menyanyi, peraga busana (fashion show), hingga merias wajah.

Dalam penilaian lomba, ia menegaskan bahwa juri menilai sikap dan penampilan peserta saat tampil di depan publik. Dengan demikian, diharapkan seluruh peserta memiliki kepercayaan diri terhadap penampilannya.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved