Erupsi Gunung Dukono
Mengenal Dukono, Gunung Api Aktif di Halut yang Terus Erupsi: Lokasi hingga Sejarah Letusan
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Halmahera Utara
Penulis: Iga Almira Rugaya Assagaf | Editor: Iga Almira Rugaya Assagaf
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE – Berikut profil Gunung Dukono di Halmahera Utara, salah satu gunung paling aktif di Indonesia, yang baru saja kembali erupsi pada Jumat (8/5/2026), sekitar pukul 07.41 WIT.
Sebanyak 20 pendaki dilaporkan berada di kawasan gunung saat erupsi terjadi. Para pendaki tersebut didominasi warga negara asing (WNA).
Hingga saat ini, sebanyak 15 pendaki berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Baca juga: Erupsi Gunung Dukono, Basarnas Ternate: 14 Pendaki Telah Dievakuasi, Lainnya Masih Dicari
Sementara tiga pendaki lainnya dilaporkan meninggal dunia dan saat ini tim SAR gabungan masih berada di lapangan untuk proses pencarian dan evakuasi.
Profil Gunung Dukono
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.
Gunung ini dikenal karena aktivitas erupsinya yang terjadi hampir tanpa henti dalam beberapa tahun terakhir.
Secara administratif, Gunung Dukono berada di wilayah Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara.
Gunung api bertipe stratovolcano ini terletak di bagian utara Pulau Halmahera dan menjadi salah satu destinasi pendakian sekaligus kawasan yang terus dipantau karena aktivitas vulkaniknya.
Gunung Dukono memiliki ketinggian sekitar 1.087 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meski tidak terlalu tinggi dibanding gunung lain di Indonesia, Dukono memiliki karakter erupsi yang cukup aktif dan berbahaya, terutama karena lontaran abu vulkanik yang sering terjadi.
Sejarah Letusan
Berdasarkan catatan sejarah vulkanologi, erupsi Gunung Dukono telah tercatat sejak tahun 1550.
Aktivitas gunung ini berlangsung sangat panjang dan berulang, menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Maluku Utara.
Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Dukono tercatat terus mengalami erupsi dengan intensitas yang fluktuatif.
Erupsi biasanya berupa semburan abu vulkanik setinggi ratusan hingga ribuan meter dari kawah utama.
Pada erupsi sebelumnya, hujan abu sempat berdampak pada sejumlah desa di sekitar Kecamatan Galela dan Tobelo.
Aktivitas penerbangan di wilayah Maluku Utara juga beberapa kali mendapat peringatan akibat sebaran abu vulkanik.
Selain itu, masyarakat di sekitar gunung kerap diminta menggunakan masker saat aktivitas vulkanik meningkat karena abu dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
Perjalanan ke Gunung Dukono dari Ternate
Dari Kota Ternate menuju Gunung Dukono, jaraknya diperkirakan mencapai sekitar 170 hingga 200 kilometer, tergantung jalur perjalanan yang digunakan.
Perjalanan dari Ternate biasanya dimulai dengan menyeberang menggunakan kapal cepat atau ferry menuju Pelabuhan Sofifi atau Pelabuhan Sidangoli di Halmahera Barat.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Tobelo, ibu kota Kabupaten Halmahera Utara.
Dari Tobelo, perjalanan ke kaki Gunung Dukono dilanjutkan menuju Desa Mamuya yang menjadi salah satu titik awal pendakian.
Waktu tempuh keseluruhan dari Ternate menuju kawasan Gunung Dukono dapat mencapai 6 hingga 8 jam perjalanan.
Meski dikenal eksotis dan memiliki panorama alam khas pegunungan vulkanik, aktivitas pendakian ke Gunung Dukono sangat bergantung pada kondisi vulkanik terkini.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara rutin mengeluarkan rekomendasi dan radius bahaya yang wajib dipatuhi masyarakat maupun pendaki. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Dukono-erupsi-8-Mei-2026-pukul-0740-WIT.jpg)