DATA HIV AIDS
Cerita Haris Mendampingi ODHA di Maluku Utara: Tantangan, Stigma, dan Harapan
Ia menjadi pendukung sebaya bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA/ODHIV), sebuah peran yang menuntut kesabaran, empati, dan komitmen jangka panjang
Penulis: Sitti Muthmainnah | Editor: Sitti Muthmainnah
Ringkasan Berita:
- Haris , pria berusia 29 tahun memilih jalan hidup yang tidak semua orang berani menapakinya.
- Ia menjadi pendukung sebaya bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA/ODHIV), sebuah peran yang menuntut kesabaran, empati, dan komitmen jangka panjang.
- Setiap hari, Haris berdampingan dengan para ODHA/ODHIV dalam berbagai aspek, mulai dari pendampingan psikososial, edukasi, sosialisasi, hingga memastikan kepatuhan mereka dalam mengonsumsi ARV.
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Haris , pria berusia 29 tahun memilih jalan hidup yang tidak semua orang berani menapakinya.
Ia menjadi pendukung sebaya bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA/ODHIV), sebuah peran yang menuntut kesabaran, empati, dan komitmen jangka panjang.
Setiap hari, Haris berdampingan dengan para ODHA/ODHIV dalam berbagai aspek, mulai dari pendampingan psikososial, edukasi, sosialisasi, hingga memastikan kepatuhan mereka dalam mengonsumsi ARV.
Baca juga: Daftar Harga Tiket Laga Malut United vs Persib Bandung di Kie Raha, Kick-off Minggu 14 Desember 2025
Tugas yang tampak sederhana, tetapi menjadi penentu apakah seseorang tetap sehat atau justru jatuh pada kondisi yang lebih berat.
Hingga kini, sebanyak 248 ODHA/ODHIV di Maluku Utara pernah ia dampingi. Walau sebagian besar pasien berasal dari berbagai kabupaten/kota, mereka tetap bergantung pada Kota Ternate sebagai pusat pengambilan obat ARV.
Haris, yang tergabung dalam lembaga Batamang Plus, menjadi penghubung penting antara layanan kesehatan dan para pasien yang ia dampingi.
“Mereka harus percaya bahwa mereka tidak sendiri,” kata Haris kepada Tribunternate.com, Jumat (5/12/2025).
Ketika ditanya alasan memilih profesi ini, Haris menjawab tegas, untuk memberdayakan para ODHA/ODHIV.
Baginya, kehadiran pendukung sebaya sangat berarti agar mereka tetap percaya diri, tidak putus obat, dan tetap berjuang mencapai Three Zero HIV.
Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Beberapa ODHA/ODHIV kerap ingin berhenti minum obat karena berbagai alasan.
Dalam situasi seperti itu, Haris tidak tinggal diam. Ia mencari solusi sesuai kendala masing-masing pasien, sering kali berkonsultasi dengan dokter maupun psikolog untuk memastikan mereka mendapatkan dukungan terbaik.
Kadang, ia juga murni hadir sebagai teman, memberikan penguatan, mendengarkan keluh kesah, atau sekadar memastikan bahwa mereka tidak menghadapi semuanya seorang diri.
Tantangan Menjangkau Pasien di Wilayah Terpencil
Salah satu tantangan terbesar Haris adalah menjangkau ODHA/ODHIV yang tinggal jauh dari Kota Ternate.
Keterbatasan biaya perjalanan, kontak pasien yang mendadak tidak aktif, hingga perpindahan alamat tanpa kabar membuat proses pendampingan menjadi sulit.
“Tidak semua bisa dijangkau dengan mudah,” tuturnya.
Namun tantangan itu tidak menyurutkan langkahnya.
Haris juga pernah mendampingi ODHA/ODHIV perempuan hamil. Meski prosedurnya hampir sama, perbedaan biasanya terletak pada tingkat stadium dan dosis obat yang diberikan.
Dari ratusan pasien yang ia dampingi, sebagian besar berada pada stadium 1 dan 2.
Setiap hari, Haris harus mengambil obat untuk sekitar 15 ODHA/ODHIV, masing-masing satu botol berisi 30 tablet.
Ia menjaga catatan laporan tiap pasien dengan rapi, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat.
Stigma Masih Menjadi Musuh Terbesar
Bagi banyak ODHA/ODHIV, tekanan mental sering kali lebih berat daripada gangguan fisik. Stigma masih menjadi momok yang membuat mental mereka drop, merasa rendah diri, atau takut meminta pertolongan.
Karena itu, membangun kepercayaan menjadi bagian penting dari pekerjaan Haris. Jika hubungan tidak terbangun, ODHA/ODHIV mudah menarik diri dan berhenti pengobatan.
“Saya merasa berguna ketika mereka membaik dan sehat,” ucap Haris.
Meski pekerjaannya melelahkan, Haris tidak pernah mengeluh. Justru sebaliknya, ia merasa pekerjaan sebagai pendukung sebaya adalah panggilan hati.
Baca juga: Air Minum Vpol Diduga Tidak Higienis, Polda Maluku Utara Mulai Penyelidikan
Ada rasa puas yang dalam ketika melihat kondisi ODHA/ODHIV yang ia dampingi berangsur membaik.
“Itu pencapaian buat saya,” ujarnya pelan.
Bagi Haris, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah tanggung jawab moral, sebuah komitmen terhadap kemanusiaan yang tidak pernah ia tanggung setengah hati. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Haris-pendamping-ODHA.jpg)