Banjir di Halut
Hujan Lebat Picu Banjir dan Longsor, 5 Jembatan di Halmahera Utara Terdampak
Lokasi tersebut meliputi Desa Darume dan Desa Kailupa, di mana akses jalan tertutup longsor sepanjang kurang lebih 150 meter
Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
Ringkasan Berita:1. Curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Maluku Utara menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan
2. Dinas PUPR Maluku Utara mencatat, sedikitnya 5 jembatan di Halmahera Utara terdampak
3. Lokasi tersebut meliputi Desa Darume dan Desa Kailupa, di mana akses jalan tertutup longsor sepanjang kurang lebih 150 meter
TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Maluku Utara sejak Selasa sore hingga Rabu (7/1/2026), menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan.
Kondisi ini memicu banjir dan longsor yang merendam permukiman warga serta merusak infrastruktur vital di sejumlah kabupaten/kota.
Dinas PUPR Maluku Utara mencatat, sedikitnya 5 jembatan di Halmahera Utara terdampak.
Bahkan beberapa di antaranya mengalami putus total akibat gerusan air dan luapan sungai.
Baca juga: 3 Berita Populer Malut: Belasan Laka Lantas di Haltim Sepanjang 2025 - Tutup Jalan Bisa Dipidana
Plt Kepala Dinas PUPR Maluku Utara Risman Iriyanto Djafar mengungkapkan sejumlah titik bencana yang kini menjadi prioritas penanganan pemerintah daerah.
Lokasi tersebut meliputi Desa Darume dan Desa Kailupa, di mana akses jalan tertutup longsor sepanjang kurang lebih 150 meter.
Selain itu, longsor juga menutup akses jalan di Desa Posi-Posi.
Sementara di Desa Bobisingo, banjir mengakibatkan oprit jembatan terputus sepanjang sekitar 50 meter.
Kondisi serupa terjadi di Desa Tutumaloleo, di mana jembatan putus akibat banjir, serta di Desa Sayoang yang mengalami keterisolasian karena akses jalan terputus.
"Saat ini tim kami masih dalam perjalanan menuju lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan identifikasi lebih lanjut terkait tingkat kerusakan, "ujarnya kepada Tribunternate.com, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, penanganan banjir di beberapa titik membutuhkan kolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS).
Sinergi ini difokuskan pada wilayah terdampak banjir di Desa Bobisingo, Desa Tutumaloleo, dan Desa Sayoang.
"Sesuai rekomendasi BWS, penanganan banjir difokuskan pada perbaikan dan penataan alur sungai, sementara pemerintah daerah menyiapkan dan memulihkan akses jalannya, "jelasnya.
Baca juga: Belasan Laka Lantas Terjadi di Halmahera Timur Sepanjang 2025, 10 di Antaranya Meregang Nyawa
Ada pun untuk Desa Darume, Desa Kailupa dan Desa Posi-Posi yang terdampak longsor tebing dan tidak disebabkan oleh luapan sungai, penanganan disarankan dilakukan melalui mekanisme darurat dengan memanfaatkan Belanja Tidak Terduga (BTT).
Risman menambahkan, pascabanjir Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, telah menginstruksikan Dinas PUPR agar terus memantau kondisi lapangan dan mempercepat penanganan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak.
"Langkah ini penting agar konektivitas antarwilayah segera pulih dan aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan normal, "tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/banjir-Halmahera-Utara.jpg)