DPRD Maluku Utara
Optimistis Malut Jadi Pusat Pertumbuhan Baru, DPRD Dukung Visi Ekonomi Sherly Laos
Yusran Pauwah mengapresiasi langkah Gubernur Sherly Laos dalam mendorong Maluku Utara menjadi gerbang ekonomi baru
Penulis: Sansul Sardi | Editor: Sitti Muthmainnah
Ringkasan Berita:
- Anggota DPRD Maluku Utara, Yusran Pauwah, mengapresiasi langkah Gubernur Sherly Laos dalam mendorong Maluku Utara menjadi gerbang ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.
- Potensi ekonomi daerah dinilai sangat besar, seperti kebutuhan daging ayam yang mencapai Rp1 triliun per tahun dan sektor perikanan tuna yang baru dimanfaatkan sekitar 20 persen akibat keterbatasan fasilitas.
- DPRD mendukung pembangunan industri pengolahan dan cold storage guna meningkatkan nilai tambah di dalam daerah.
TRIBUNTERNATE.COM,SOFIFI- Ketua Fraksi Partai Hanura DPRD Provinsi Maluku Utara, Yusran Pauwah, mengapresiasi langkah Gubernur, Sherly Laos, dalam mendorong Maluku Utara menjadi gerbang ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.
Menurut Yusran, kebijakan yang fokus pada penguatan sektor peternakan, perikanan, dan perkebunan kelapa merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi daerah, sekaligus menarik minat investasi.
Ia menilai, pernyataan Sherly terkait masih tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi sinyal kuat bahwa Maluku Utara memiliki peluang besar untuk berkembang.
Baca juga: 5 Shio Paling Beruntung Minggu 29 Maret 2026, Era Kelimpahan Dimulai
“Ini peluang besar bagi investor untuk masuk, khususnya di sektor produksi pangan dan industri pengolahan,” ujar Yusran, Sabtu (28/3/2026).
Di sektor peternakan misalnya, kebutuhan daging ayam di Maluku Utara diperkirakan mencapai 25.000 ton per tahun. Dengan harga rata-rata Rp40.000 per kilogram, nilai perputaran ekonomi komoditas ini mendekati Rp1 triliun per tahun.
Tingginya biaya logistik bahkan mendorong harga ayam hingga Rp50.000 per kilogram. Selain itu, kebutuhan telur juga memiliki potensi ekonomi sekitar Rp800 miliar per tahun.
Sementara di sektor perikanan, Maluku Utara dikenal sebagai salah satu jalur potensial tuna. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 20 persen akibat keterbatasan armada penangkapan, fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), serta industri pengolahan.
Pada kondisi ini, menurut Yusran, Maluku Utara juga memiliki peluang yang sama dan harus segera diatasi agar nilai tambah tidak terus dinikmati oleh daerah lain.
Olehnya itu, Yusran sangat mendukung penuh langkah pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan cold storage dan industri pengolahan hasil laut.
“Jika rantai nilai bisa dibangun di dalam daerah, maka dampaknya akan langsung terasa pada peningkatan ekonomi masyarakat, sekaligus pembukaan peluang lapangan kerja di daerah,” kata Yusran.
Baca juga: Ini Harga dan Buyback Emas Pegadaian Sabtu 28 Maret 2026: Galeri 24, Antam, UBS Kompak Turun
Di sektor perkebunan, komoditas kelapa juga menjadi andalan ekspor Maluku Utara. Saat ini, terdapat dua pabrik pengolahan kelapa yang mengekspor produk turunan seperti kopra ke China sekitar 300 kontainer per bulan. Pemerintah menargetkan volume ekspor meningkat hingga 1.000 kontainer per bulan, seiring rencana beroperasinya pabrik ketiga pada 2027.
Sherly sebelumnya menegaskan bahwa penguatan sektor produksi, industri pengolahan, serta konektivitas logistik menjadi kunci percepatan transformasi ekonomi daerah.
“Maluku Utara bukan lagi daerah pinggiran, tetapi pintu gerbang ekonomi baru Indonesia Timur,” ujar Sherly. (*)
| Nazla Kasuba Dorong Pulau Widi Halsel Dikembangkan Jadi Wisata Berbasis Ekologi |
|
|---|
| BK DPRD Malut Dalami Dugaan Pelanggaran Etik Aksandri Kitong |
|
|---|
| BK DPRD Malut Panggil Aksandri Kitong Buntut Dugaan Pelanggaran Etik |
|
|---|
| SMAN 5 Halmahera Barat Kekurangan Air Bersih dan Guru Seni Budaya |
|
|---|
| DPRD Desak Pembukaan Jalan Sula–Taliabu, Sarbin Sehe: Diproses Jadi Jalan Provinsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Maluku-Utara-bakal-menjadi-gerbang-ekonomi-baru-di-kawasan-Indonesia-Timur.jpg)