Minggu, 19 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Bentrok di Halmahera Tengah

Bentrok 2 Desa di Halmahera Tengah, Ini Kronologis Lengkap Versi Polisi

Kapolres Halmahera Tengah AKBP Fiat Dedawanto membantah keras bahwa bentrok yang terjadi ini berkaitan dengan unsur SARA

|
Penulis: Randi Basri | Editor: Munawir Taoeda
Dok Humas Pemprov Maluku Utara
BENTROK: Foto bersama. Pertemuan tokoh agama dipimpin Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe yang didampingi Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M Napiun dan Danrem 152 Baabullah Ternate Brigjen TNI Enoh Solehudin, Minggu (5/4/2026) 
Ringkasan Berita:1. Kapolres Halmahera Tengah AKBP Fiat Dedawanto angkat bicara mengenai bentrok 2 kelompok warga 2 desa di Kecamatan Patani yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) kemarin
2. Ia juga membantah keras isu yang beredar bahwa bentrok berkaitan dengan unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan)
3. AKBP Fiat Dedawanto: "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum tentu benar"

TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Kapolres Halmahera Tengah AKBP Fiat Dedawanto angkat bicara mengenai bentrok 2 kelompok warga 2 desa di Kecamatan Patani yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) kemarin.

Kedua kelompok warga dari dua desa berbeda tersebut saling serang menggunakan senjata tajam seperti parang, tombak hingga senapan angin.

Bentrokan berlangsung sejak pagi dan mencapai puncaknya pada siang hari.

Aparat gabungan dari Polres Halmahera Tengah dan TNI dari Kodim 1512/Weda dikerahkan untuk membubarkan massa.

Baca juga: Polres Halmahera Timur Gelar Deklarasi Damai, Perkuat Toleransi dan Cegah Konflik Sosial

Tapi situasi sempat sulit dikendalikan akibat tingginya emosi massa.

Bentrokan tersebut bahkan berujung pada aksi pembakaran rumah warga di Desa Sebenpopo.

Akibatnya warga setempat terpaksa keluar untuk mencari perlindungan dan mengungsi ke tempat lebih aman.

BENTROK: Foto bersama. Pertemuan tokoh agama dipimpin Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe yang didampingi Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M Napiun dan Danrem 152 Baabullah Ternate Brigjen TNI Enoh Solehudin, Minggu (5/4/2026)
BENTROK: Foto bersama. Pertemuan tokoh agama dipimpin Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe yang didampingi Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M Napiun dan Danrem 152 Baabullah Ternate Brigjen TNI Enoh Solehudin, Minggu (5/4/2026) (Dok Humas Pemprov Maluku Utara)

Polda Maluku Utara telah mengerahkan personel Brimob dan Sabhara dengan dukungan personel TNI ke lokasi untuk membubarkan massa.

AKBP Fiat Dedawanto mengatakan, bentrok seharusnya tidak perlu terjadi. Emosi warga memuncak dipicu oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

Pemicu bentrok

Bentrok disinyalir bermula dari penemuan jasad seorang kakek bernama Ali Abas (65), warga Desa Banemo di kebunnya pada Kamis (2/4/2026).

"Berdasarkan temuan tersebut, warta di desa itu terbawa suasana dan termakan informasi yang belum pasti sehingga timbul kemarahan, "ujar AKBP Fiat Dedawanto saat dikonfirmasi Tribunternate.com via ponsel, Minggu (5/4/2026).

Kondisi tersebut memicu warga melakukan tindakan anarkis, yang berujung pada bentrok yang terjadi beberapa hari kemarin.

Meski bentrok sempat diredam, namun karena emosi, beberapa fasilitas umum dirusak dan terdapat korban luka-luka.

Bukan isu SARA

AKBP Fiat Dedawanto menambahkan, bentrok murni merupakan tawuran antar-kelompok warga desa.

Dan ia membantah keras isu yang beredar bahwa bentrok berkaitan dengan unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan).

"Kami tegaskan kejadian ini bukan masalah SARA, melainkan tawuran antar-kelompok."

"Data yang kami peroleh menunjukan, dari 650 jiwa warga di Desa Sebenpopo, terdapat 15 warga Muslim di sana."

"Jadi jangan mudah terprovokasi isu yang belum tentu benar, "tegas AKBP Fiat Dedawanto.

Pemerintah daerah baik Provinsi maupun kabupaten telah berada di lokasi untuk menenangkan warga.

Fokus utama saat ini adalah mengusut tuntas pelaku di balik kematian Ali Abas yang menjadi pemantik kerusuhan.

"Kami telah membentuk tim gabungan dari Ditreskrimum Polda Maluku Utara dan Satreskrim Polres Halmahera Tengah untuk mencari siapa dalang dibalik konflik, "tambah Kapolres.

Kondisi terkini dan upaya pemulihan

Hingga saat ini, pihaknya telah melakukan penyisiran di kedua desa dan menyita ratusan senjata tajam (kondisi di lapangan mulai kondusif).

Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Bupati Halmahera Tengah Ikram M Sangadji, Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M. Napiun serta Danrem 152/Babullah Ternate Brigjen TNI Enoh Solehudin bersama tokoh masyarakat setempat tengah melakukan upaya pencegahan dan mediasi.

Fokus awal kepolisian adalah pemulihan situasi agar masyarakat merasa aman untuk kembali ke rumah masing-masing.

Polres Halmahera Tengah telah menyiagakan personel di 4 titik pos pengamanan:

  • Pos di masing-masing dua desa yang bertikai
  • Pos di wilayah perbatasan desa
  • Pos di lokasi pengungsian

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum tentu benar," tutup AKBP Fiat Dedawanto.

Kronologi kejadian berdasarkan data lapangan

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bentrokan terjadi di perbatasan 2 desa di Kecamatan Patani pada Jumat (3/4/2026) pagi.

Bentrok dilaporkan mengakibatkan 2 orang meninggal dan sejumlah rumah serta fasilitas umum termasuk pos polisi terbakar.

Bentrok disinyalir bermula dari penemuan jasad seorang kakek bernama Ali Abas (65), warga Desa Banemo di kebunnya pada Kamis (2/4/2026).

Yang mana keluarga Ali Abas mencurigai adanya unsur pembunuhan karena ditemukan luka benda tajam di tubuh.

Beberapa jam setelah penemuan jasad Ali Abas, massa yang tersulut emosi mulai melakukan penyerangan.

Hingga Minggu (5/4/2026) sore, situasi mulai terkendali di bawah pimpinan Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Stephen M. Napiun, dengan total 250 personel TNI-Polri yang disiagakan.

 

Tanggapan Gubernur Maluku Utara

Gubernur Maluku Utara Sherly Laos menyatakan telah menerima laporan detail terkait bentrok ini.

Baca juga: Danrem dan Kapolda Maluku Utara Turun Tangan Pulihkan Situasi Pascabentrok di Halmahera Tengah

Karena itu ia menekankan bahwa pihaknya mendorong penyelesaian melalui pendekatan dialogis dan penegakan hukum yang adil.

"Kehadiran pemerintah dan aparat di lapangan bertujuan untuk menenangkan, melindungi dan memastikan situasi tidak berkembang lebih jauh."

"Olehnya itu saya imbau kepada masyarakat agar bijak dalam menyikapi informasi di media sosial, "pinta Sherly Laos. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved