Minggu, 26 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemprov Malut

Makna Hari Kartini di Mata Gubernur Maluku Utara Sherly Laos: Keberanian Perempuan Mengubah Dunia

Hari Kartini adalah hari di mana kita mengenang seorang perempuan yang mempunyai cara berpikir berbeda dan berani melangkah walaupun dunia belum siap

Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
Tribunternate.com/Sansul Sardi
STATEMENT: Gubernur Maluku Utara Sherly Laos. Menurutnya, Kartini adalah simbol keberanian perempuan untuk berpikir melampaui zamannya dan melangkah meski dunia belum sepenuhnya siap menerima perubahan 

Ringkasan Berita:1. Gubernur Maluku Utara Sherly Laos memaknai Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, busana kebaya atau agenda formal.
2. Kartini adalah simbol keberanian perempuan untuk berpikir melampaui zamannya dan melangkah meski dunia belum sepenuhnya siap menerima perubahan
3. Sherly Laos: "Hari Kartini adalah hari di mana kita mengenang seorang perempuan yang mempunyai cara berpikir berbeda dan berani melangkah"

TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Gubernur Maluku Utara Sherly Laos memaknai Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, busana kebaya atau agenda formal yang datang dan pergi setiap 21 April.

Bagi gubernur perempuan pertama di Maluku Utara itu, Kartini adalah simbol keberanian perempuan untuk berpikir melampaui zamannya dan melangkah meski dunia belum sepenuhnya siap menerima perubahan.

Pandangan tersebut ia sampaikan di hadapan para pelaku UMKM perempuan dalam kegiatan Penguatan Kapasitas UMKM yang digelar oleh Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara di Bela Hotel Ternate, Senin (20/4/2026).

"Hari Kartini itu bukan tentang kebaya, bukan tentang seremonial, dan bukan hanya untuk dikenang. Bagi saya, Hari Kartini adalah hari di mana kita mengenang seorang perempuan yang mempunyai cara berpikir berbeda dan berani melangkah walaupun dunia belum siap, "ujar Sherly.

Baca juga: Pemprov Maluku Utara Gandeng Pertamina Amankan Pasokan LPG: Harga Tetap Stabil

Di tengah ruangan yang dipenuhi perempuan pelaku usaha, pesan itu terasa relevan. Raden Ajeng Kartini, menurut Sherly, telah membuka jalan panjang agar perempuan memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menentukan masa depannya sendiri.

Jika pada masa lalu perjuangan itu adalah membuka akses, maka tugas generasi hari ini adalah mengisi ruang yang telah diperjuangkan tersebut.

Ia menilai momentum Hari Kartini saat ini harus diterjemahkan dalam bentuk nyata: perempuan yang berdaya, mandiri, dan berani mengambil peran strategis di berbagai sektor, termasuk ekonomi.

Kartini di mata Gubernur Maluku Utara Sherly Laos
Gubernur Maluku Utara Sherly Laos

Karena itu, forum UMKM yang dihadirinya bukan sekadar agenda pelatihan. Di sana, Sherly melihat perempuan-perempuan yang sedang menulis kisah baru menjadi penggerak ekonomi keluarga, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjaga masa depan anak-anak mereka.

Mengutip slogan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, ia menegaskan bahwa ketika perempuan berdaya, maka anak akan terlindungi.

Namun, ia juga mengakui tantangan perempuan Indonesia belum sepenuhnya selesai. Persoalan kesejahteraan, kekerasan, pelecehan, hingga ketimpangan kesempatan masih menjadi pekerjaan rumah dari masa ke masa.

Meski begitu, Sherly Laos percaya akar dari perubahan tetap sama, yakni pemberdayaan perempuan.

Menurutnya, makna “berdaya” tidak berhenti pada kemampuan bertahan hidup atau sekadar mandiri secara ekonomi.

Lebih dari itu, berdaya adalah keberanian untuk berpikir berbeda, berani mengambil risiko, berani maju, dan berani melangkah sesuai kapasitas yang dimiliki.

Baca juga: Pemprov Maluku Utara Gandeng Pertamina Amankan Pasokan LPG: Harga Tetap Stabil

"Berdaya itu ketika perempuan memiliki keberanian, kapasitas, dan mampu mengambil keputusan untuk menentukan arah hidupnya sendiri, "kata sang gubernur.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa warisan Kartini belum selesai dibaca. Ia hidup dalam setiap perempuan yang berani belajar, bekerja, memimpin, dan memilih jalannya sendiri.

Di tangan perempuan-perempuan seperti itulah, semangat Kartini terus bergerak bukan di panggung seremoni, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved