Hardiknas 2026: Akademisi Unibrah Malut Nilai Sistem Pendidikan Masih Terjebak Pola Administratif
Dalam momentum Hardiknas 2026, Indra Abidin menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan. Ia mendorong agar guru diposisikan
Ringkasan Berita:
- Dalam momentum Hardiknas 2026, Indra Abidin menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan.
- Ia mendorong agar guru diposisikan sebagai pilar utama pembangunan peradaban, bukan sekadar pelaksana administrasi, guna melahirkan generasi yang kritis dan kreatif.
TRIBUNTERNATE.COM – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum reflektif bagi berbagai kalangan untuk menilai arah dan praktik pendidikan di Indonesia.
Salah satunya dari akademisi Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) Maluku Utara, Indra Abidin. Ia menilai, pola pikir administrator masih mendominasi dalam sistem pendidikan Indonesia.
Hal ini tercermin dari kuatnya pendekatan birokratis dalam pengelolaan pendidikan, yang pada akhirnya memengaruhi proses pembelajaran di ruang kelas.
Baca juga: Praka Tri Rachmad Jatmiko, Wasit Nasional dari Korem 152 Baabullah Pimpin EPA 2026
“Pendidikan kita masih didominasi pola pikir administrator, guru dinilai berkualitas dari dokumen, yang bisa saja dibuat-dibuat seolah-olah benar adanya," ucapannya.
Ia menjelaskan, pendekatan administratif yang terlalu kaku membuat ruang dialog, melahirkan pemikiran kritis dalam pembelajaran menjadi terbatas. Selain itu, perlu dimaknai bahwa guru mengerti apa yang disampaikan dan bagaimana peserta didik mencapai tujuan pembelajaran, namun beban administrasi sering memecahkan konsentrasi guru.
"Pentingnya iklim pendidikan kita dibagun atas dasar paradigma bahwa guru bukan pengelolaan administratif, tapi pilar utama membangun peradaban bangsa," lanjutnya.
Baca juga: Anggota DPR RI Tinjau Lapas Tobelo Halut: Fasilitas hingga Nakes Jadi Sorotan
Artinya, bagi Indra, momen Hardiknas tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi evaluasi menyeluruh terhadap praktik pendidikan sekaligus upaya membangun budaya belajar yang dialogis, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik.
Kata Indra, refleksi ini menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan tidak hanya terletak pada aspek infrastruktur atau kurikulum, tetapi juga pada pola pikir dan pendekatan yang digunakan dalam proses belajar-mengajar.
Dengan perubahan paradigma, Indra berharap, pendidikan Indonesia mampu melahirkan generasi yang lebih kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. (*)
| Praka Tri Rachmad Jatmiko, Wasit Nasional dari Korem 152 Baabullah Pimpin EPA 2026 |
|
|---|
| Anggota DPR RI Tinjau Lapas Tobelo Halut: Fasilitas hingga Nakes Jadi Sorotan |
|
|---|
| Dorong ASN Melek AI, Pemprov Malut Gelar Pelatihan Transformasi Digital, Perkuat Layanan Publik |
|
|---|
| Pemprov Maluku Utara Rapat Pengembangan RSJ Sofifi dan Skema BPJS Kesehatan |
|
|---|
| Sakit dan Sempat Dilaporkan Hilang, Anggota Polres Taliabu Aiptu Justinus Dibebastugaskan Sementara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Opini-Indra-Abidin-1.jpg)