Kamis, 30 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 Turun, Kekerasan dan Swasensor Kian Menguat

Kondisi keselamatan pers di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor

Tayang:
Tribunnews.com
INDEKS KESELAMATAN JURNALIS - Ilustrasi jurnalis. IKJ 2025 mencatat penurunan skor menjadi 59,5 persen, turun sekitar satu poin dibanding tahun sebelumnya, Selasa (10/2/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Kondisi keselamatan pers di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.
  • Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor menjadi 59,5 persen, turun sekitar satu poin dibanding tahun sebelumnya.
  • Riset yang dirilis Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix ini menempatkan Indonesia masih dalam kategori “agak terlindungi”. Namun, penurunan tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya bagi kebebasan pers.

TRIBUNTERNATE.COM - Kondisi keselamatan pers di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor menjadi 59,5 persen, turun sekitar satu poin dibanding tahun sebelumnya.

Riset yang dirilis Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix ini menempatkan Indonesia masih dalam kategori “agak terlindungi”. Namun, penurunan tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya bagi kebebasan pers.

Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba, menyebut indeks tahun ketiga ini menjadi alarm penting.

Baca juga: Pemkot Tidore Gelar Asistensi Pengadaan Barang dan Jasa TA 2026

“Indeks ini memastikan jurnalis dapat bekerja dengan aman, karena pada akhirnya hak masyarakat atas informasi yang dipertaruhkan,” ujarnya dalam peluncuran di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/1/2026).

Pengalaman Kekerasan Naik Tajam

Temuan paling mencolok dalam survei ini adalah lonjakan pengalaman kekerasan terhadap jurnalis. Sebanyak 67 persen responden mengaku pernah mengalami kekerasan, meningkat drastis dari 40 persen pada 2024.

Policy and Society Research Manager Populix, Nazmi Tamara, menjelaskan bahwa meski kekerasan fisik cenderung menurun, ancaman kini berubah bentuk.

Tekanan lebih sering muncul dalam bentuk pelarangan liputan, pembatasan pemberitaan, hingga intimidasi yang membungkam ruang kerja jurnalistik.

Ironisnya, di tengah situasi yang memburuk, kesadaran jurnalis mengenai mitigasi risiko justru meningkat 20 poin. Artinya, para jurnalis semakin paham bahaya yang mengintai, tetapi lingkungan kerja tetap belum aman.

Swasensor Menguat, Isu Strategis Jadi Sensitif

Riset terhadap 655 jurnalis di 38 provinsi juga mengungkap tren swasensor yang semakin kuat.

Sebanyak 72 persen jurnalis mengaku pernah mengalami sensor, sementara 80 persen menyatakan pernah melakukan swasensor untuk menghindari konflik maupun risiko keselamatan.

Praktik ini terjadi di semua level, mulai dari reporter hingga pimpinan redaksi.

Dua isu nasional yang paling sering dianggap sensitif dan dihindari adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Proyek Strategis Nasional (PSN).

Jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, menilai tekanan terhadap media kini lebih bersifat struktural.

Pejabat publik, kata dia, kerap enggan memberikan pernyataan resmi terkait isu strategis, yang secara otomatis membatasi akses masyarakat terhadap informasi.

Negara Diminta Hadir Melindungi Pers

Menanggapi hasil riset tersebut, Anggota Dewan Pers Abdul Manan menegaskan bahwa publik adalah pihak yang paling dirugikan jika represi terhadap jurnalis dibiarkan terus berlangsung.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan komitmennya memperbaiki regulasi, termasuk melindungi karya jurnalistik dari ancaman penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan.

“Indeks ini adalah cermin kualitas demokrasi kita,” ujar Direktur Informasi Publik Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo.

Baca juga: Malut United Harus Kunci 3 Poin Lawan Persijap dan Semen Padang Sebelum Menjamu Persija Jakarta

Konsorsium Jurnalisme Aman juga terus memperkuat perlindungan di wilayah rentan seperti Aceh, Palu, dan Sorong. Fokus mereka tidak hanya pada respons kasus kekerasan, tetapi juga membangun ekosistem yang aman, terutama bagi jurnalis perempuan yang sering berada dalam posisi paling rentan.

Chargé d’Affaires Kedutaan Besar Belanda, Adriaan Palm, menutup peluncuran indeks dengan pesan bahwa keselamatan jurnalis merupakan fondasi kepercayaan antara rakyat dan negara.

“Tanpa jurnalis yang aman, tidak akan ada informasi yang dapat diandalkan,” tegasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved