Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 Turun, Kekerasan dan Swasensor Kian Menguat
Kondisi keselamatan pers di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor
Ringkasan Berita:
- Kondisi keselamatan pers di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.
- Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor menjadi 59,5 persen, turun sekitar satu poin dibanding tahun sebelumnya.
- Riset yang dirilis Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix ini menempatkan Indonesia masih dalam kategori “agak terlindungi”. Namun, penurunan tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya bagi kebebasan pers.
TRIBUNTERNATE.COM - Kondisi keselamatan pers di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor menjadi 59,5 persen, turun sekitar satu poin dibanding tahun sebelumnya.
Riset yang dirilis Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix ini menempatkan Indonesia masih dalam kategori “agak terlindungi”. Namun, penurunan tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya bagi kebebasan pers.
Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba, menyebut indeks tahun ketiga ini menjadi alarm penting.
Baca juga: Pemkot Tidore Gelar Asistensi Pengadaan Barang dan Jasa TA 2026
“Indeks ini memastikan jurnalis dapat bekerja dengan aman, karena pada akhirnya hak masyarakat atas informasi yang dipertaruhkan,” ujarnya dalam peluncuran di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/1/2026).
Pengalaman Kekerasan Naik Tajam
Temuan paling mencolok dalam survei ini adalah lonjakan pengalaman kekerasan terhadap jurnalis. Sebanyak 67 persen responden mengaku pernah mengalami kekerasan, meningkat drastis dari 40 persen pada 2024.
Policy and Society Research Manager Populix, Nazmi Tamara, menjelaskan bahwa meski kekerasan fisik cenderung menurun, ancaman kini berubah bentuk.
Tekanan lebih sering muncul dalam bentuk pelarangan liputan, pembatasan pemberitaan, hingga intimidasi yang membungkam ruang kerja jurnalistik.
Ironisnya, di tengah situasi yang memburuk, kesadaran jurnalis mengenai mitigasi risiko justru meningkat 20 poin. Artinya, para jurnalis semakin paham bahaya yang mengintai, tetapi lingkungan kerja tetap belum aman.
Swasensor Menguat, Isu Strategis Jadi Sensitif
Riset terhadap 655 jurnalis di 38 provinsi juga mengungkap tren swasensor yang semakin kuat.
Sebanyak 72 persen jurnalis mengaku pernah mengalami sensor, sementara 80 persen menyatakan pernah melakukan swasensor untuk menghindari konflik maupun risiko keselamatan.
Praktik ini terjadi di semua level, mulai dari reporter hingga pimpinan redaksi.
Dua isu nasional yang paling sering dianggap sensitif dan dihindari adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Proyek Strategis Nasional (PSN).
Jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, menilai tekanan terhadap media kini lebih bersifat struktural.
Pejabat publik, kata dia, kerap enggan memberikan pernyataan resmi terkait isu strategis, yang secara otomatis membatasi akses masyarakat terhadap informasi.
Negara Diminta Hadir Melindungi Pers
Menanggapi hasil riset tersebut, Anggota Dewan Pers Abdul Manan menegaskan bahwa publik adalah pihak yang paling dirugikan jika represi terhadap jurnalis dibiarkan terus berlangsung.
| Nasib PPPK Paruh Waktu Pemkab Taliabu Bergantung Keuangan Daerah |
|
|---|
| Tanpa Anggaran Pemeliharaan, DPRD Taliabu Perbaiki Plafon Pakai Dana Rutin |
|
|---|
| Hari Pertama Seleksi Paskibraka Taliabu Diikuti 289 Peserta, Nilai Peserta Lampaui Passing Grade |
|
|---|
| Usai Dilantik jadi Sekda Halsel, Abdillah Kamarullah Diberi Tugas Khusus dari Bassam Kasuba |
|
|---|
| Jalan Berlubang Picu Kecelakaan Tunggal di Taliabu, Pengendara Alami Luka Lecet |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Jurnalis-di-Ternate-terima-pengancaman.jpg)