Virus Corona
Najwa Shihab Terenyuh Lihat Perawat Diusir hingga Jenazah Covid-19 Ditolak Warga: Jangan Kebablasan!
Najwa Shihab terenyuh melihat sejumlah peristiwa yang dialami korban virus Corona atau Covid-19.
Cerita tersebut membuat wanita berusia 42 tahun itu patah hari.
"Cerita yang dibagikan seorang Dokter yang juga membuat saya patah hati," ungkap Najwa Shihab.
"Di satu sisi, kasus-kasus ini menunjukan kesadaran dan kewaspadaan pada virus Covid-19 mulai terbentuk. Namun, upaya menjaga jarak ini jangan kebablasan. Jaga jarak bukan berarti kita bebas mengusir orang atau menolak jenazah," jelasnya.
Menurut Najwa, tak seharusnya para tenaga medis diperlakukan kurang menyenangkan karena merekalah pahlawan di tengah pandemi virus Corona.
Najwa juga menyebut bahwa pengusiran terhadap tenaga medis tersebut sudah keterlaluan.
"Mereka mempertaruhkan nyawa dengan merawat pasien-pasien dengan peralatan seadanya," kata Najwa.
"Jaga jarak dengan perawat itu wajar. Seperti juga kita harus jaga jarak dengan siapa saja sekarang. Tapi kalau sampai mengusir mereka itu sudah keterlaluan," imbuhnya.
Seharusnya, kata Najwa, masyarakat membantu kebutuhan korban virus Corona agar tidak keluar dari rumah.
"Pasien ODP, PDP adalah korban, bantu mereka mengisolasi diri di rumah masing-masing. Bahkan kita perlu men-support kebutuhan mereka," jelas Najwa.
Pun dengan jenazah Covid-19, Najwa Shihab menilai penolakan yang dilakukan warga itu sangat tidak beralasan.
Dijelaskan Najwa Shihab, pengurusan jenazah Covid-19 sudah sesuai SOP dan jenazah tidak akan menyebarkan virus.
"Sama juga jenazah, kalau terkait corona, biasanya rumah sakit sudah punya SOP dan standar penanganan jenazah. Mereka juga dibungkus secara khusus. Sama sekali enggak masalah dikuburkan di manapun. Karena kalau sudah dikubur, mereka tidak akan menyebarkan virus," kata Najwa Shihab.
• Najwa Shihab Bereaksi Keras Dengar Wacana Yasonna Laoly Bebaskan Koruptor Cegah Corona: Nanti Dulu!
Untuk memperkuat ucapannya, Najwa pun menyertakan penjelasan dari dr Edi Suyanto, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr Soetomo Surabaya.
"Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS, sama dengan H5N1 (Flu Burung)," kutip Najwa Shihab dari dr Edi Suyanto.
Menurut Najwa, tindakan mengusir hingga mengucilkan korban virus Corona justru berbahaya.