Breaking News:

Mudik Lebaran 2021

Kisah Suami-Istri Mudik Jalan Kaki dari Gombong ke Soreang: Bawa Dua Anak Balita, Bekal Rp120 Ribu

Selain berbekal uang Rp 120 ribu, kata Dani, ia dan istrinya hanya membawa pakaian yang mereka kemas dalam tas gendong kecil.

Editor: Rizki A

“Saya heran, siang-siang bulan puasa kok ada yang makan minum di sisi jalan. Setelah saya dekati ternyata mereka sedang melakukan perjalanan jauh dari Gombong menuju Soreang Bandung dengan berjalan kaki,” ujar Abdul Muhi, Kades Tigaherang, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis.

Setelah mengetahui kondisi Dani sekeluarga, Abdul Muhi pun menawari Dani sekeluarga ikut mobil, menumpang sampai Sindangrasa, Ciamis.

Kepala Desa Tigaherang, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, itu pun menitipkan sedikit bekal untuk Dani dan keluarga.

“Alhamdulillah di perjalanan suka ada yang bantu, tidak hanya makanan dan minuman tetapi juga uang."

"Kadang juga tumpangan naik mobil,” ujar Dani.

Dani mengatakan, setiap hari mereka bisa melakukan perjalanan antara 25 kilometer sampai 30 kilometer.

Tapi, kadang lebih cepat kalau ada yang ngajak menumpang naik mobil.

Dani memperkirakan mereka akan sampai di Soreang pada hari kedua Lebaran.

“Doain kami selamat,” katanya.

Lebih Lengang

Hingga hari kedua larangan mudik, kemarin, sebanyak 22 ribuan kendaraan telah dipaksa kembali saat mencoba melintas di pos-pos penyekatan yang tersebar di 158 titik di Jabar.

"Proses pelarangan mudik berlangsung sangat dinamis. Per harinya itu Polda Jawa Barat memutarbalikkan sekitar 11 ribu kendaraan. Jadi selama dua hari terakhir sudah 22 ribu kendaraan yang diputarbalikan karena ketahuan curi-curi mudik," kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil, seusai memimpin rapat Penanganan Covid-19 Jabar di Markas Kodam III Siliwangi, Jumat (7/5/2021).

Emil memngatakan, selama dua hari, terdapat 64 ribu kendaraan yang dirazia atau diperiksa oleh petugas kepolisian, Satpol PP, TNI, Dinas Perhubungan, dan instansi lainnya.

"Hikmahnya, per hari ini, laporan dari kepolisian, lalu lintas lebih lengang, karena mungkin ada pemberitaan terjadinya dinamika luar biasa kemarin, itu membuat banyak yang mau mudik mengurungkannya," katanya.

Dari sekitar 300 penyekatan se-Indonesia, kata Emil, setengahnya memang ada di Jabar.

Ada dua puluhan penyekatan di jalan tol dan jalan jalan nasional, sisanya 130 penyekatan di jalan-jalan kota kabupaten, melibatkan polsek terkait.

"Jadi, enggak usah menyiasati karena nanti capek sendiri. Semua potensi yang ke arah zona mudik itu ditutup."

"Contohnya yang paling ramai di Priangan kan, ke Tasik Garut itu, di Gentong juga juga dilakukan penyekatan luar biasa," katanya.

Emil juga kembali menegaskan, kegiatan mudik dilarang di daerah mana pun, termasuk kawasan aglomerasi di Jabar, yakni Bodebek dan Bandung Raya.

"Orang tinggal di Cimahi kerja di Bandung, tidak akan dirazia atau disekat, tapi tidak boleh dijadikan alasan untuk mudik."

"Kami dari satgas akan melakukan upaya juga, memilah-milah mana yang terlihat beberengkes, gayanya mau mudik, itu kita larang," kata Gubernur.

Gubernur menekankan tidak ada lagi istilah mudik lokal di Jabar, baik di kawasan aglomerasi maupun yang bukan kawasan aglomerasi.

Hal ini diharapkan ditindaklanjuti oleh pemerintah di tingkat kabupaten dan kota di Jawa Barat.

"Mudik intinya dilarang, tidak ada istilah mudik lokal."

"Kita koreksi semua jenis mudik, mau di aglomerasi mau interaglomerasi, interkota, interprovinsi, itu juga dilarang," katanya. (andri m dani/eki yulianto/syarif abdussalam)

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul SUNGGUH Memilukan, Pemudik Jalan Kaki dari Gombong ke Bandung, Tidur di SPBU, Dua Balita Ikut Serta, 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kisah Pilu Pasutri dan 2 Balita Terpaksa Mudik Jalan Kaki Dari Gombong ke Bandung, Mohon Doa Selamat

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved