Terkini Internasional
1,5 Tahun Pandemi Covid-19 Merebak, Haiti Baru Menerima Bantuan Vaksin Covid-19 Pertamanya
Pada Rabu (14/7/2021), Haiti menerima bantuan dosis vaksin Covid-19 pertamanya di tengah lonjakan kasus infeksi dan angka kematian.
TRIBUNTERNATE.COM - Distribusi vaksin Covid-19 ke negara-negara terdampak pandemi virus corona di dunia masih terus berlangsung.
Namun, selama hampir 1,5 tahun pandemi global Covid-19 merebak, ada negara yang baru saja menerima bantuan vaksin Covid-19 pertamanya.
Pada Rabu (14/7/2021), Haiti menerima bantuan dosis vaksin Covid-19 pertamanya di tengah lonjakan kasus infeksi dan angka kematian.
Organisasi Kesehatan Pan Amerika (Pan American Health Organization/PAHO) mengatakan, Amerika Serikat menyumbangkan 500.000 dosis vaksin Covid-19 melalui program COVAX PBB untuk negara-negara berpenghasilan rendah.
Juru bicara Nadia Peimbert-Rappaport mengatakan kepada Associated Press, vaksin Covid-19 yang diperbantukan itu adalah vaksin Moderna.
“Pengiriman vaksin ini cukup menjanjikan, dan sekarang tantangannya adalah memberikannya kepada orang-orang yang paling membutuhkan,” kata direktur PAHO, Dr Carissa Etienne, dalam sebuah pernyataan, sebagaimana diwartakan Channel News Asia.
Dosis vaksin akan diberikan secara gratis kepada masyarakat, kata Dr Marie Greta Roy Clement, Menteri Kesehatan Masyarakat dan Kependudukan Haiti.
“Alokasi vaksin pertama ini mengakhiri masa penantian yang panjang, akhir dari penantian tidak hanya bagi penduduk Haiti, tetapi juga bagi orang-orang yang begitu prihatin melihat Haiti adalah satu-satunya negara di wilayah Amerika yang belum mendapat vaksin Covid-19,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Pemerintah Resmi Luncurkan 3 Paket Vitamin dan Obat Gratis untuk Warga yang Isoman, Ini Rinciannya
Baca juga: Masih Ada Banyak Negara yang Belum Dapat Vaksin, WHO Minta Negara Kaya Tidak Pesan Vaksin Booster
Baca juga: Kasus Covid-19 di RI Terus Melonjak, Arab Saudi, Taiwan, dan Jepang Evakuasi Warganya dari Indonesia
Diketahui, Haiti mengonfirmasi dua kasus Covid-19 pertama di wilayahnya pada 19 Maret 2020 lalu.
Kini, Haiti telah melaporkan lebih dari 19.300 kasus infeksi virus corona yang terkonfirmasi dan lebih dari 480 kematian.
Gelombang kasus Covid-19 di Haiti membuat rumah sakit kewalahan dan terpaksa menolak pasien.
Para ahli percaya bahwa angka-angka itu tidak dilaporkan secara luas karena jumlah test and tracing di Haiti, yang berpenduduk lebih dari 11 juta orang, terbilang kecil.
Sekitar 756.000 dosis vaksin AstraZeneca telah dijadwalkan untuk tiba pada bulan Mei 2021 lalu melalui program COVAX.
Namun, pengiriman bantuan vaksin itu ditunda karena pemerintah khawatir atas adanya efek samping penggumpalan darah dari vaksin tersebut dan kurangnya infrastruktur untuk menyimpan vaksin dengan benar.
Organisasi Kesehatan Pan Amerika telah mengatakan, kiriman vaksin akan membantu Kementerian Kesehatan Haiti memecahkan masalah tersebut dan akan memprioritaskan pekerja kesehatan yang divaksinasi.
Namun, masih belum diketahui kapan dan di mana proses vaksinasi dimulai.
Para ahli sebelumnya telah memperingatkan adanya potensi masalah yang dapat memperumit upaya vaksinasi di Haiti.
Di antaranya, lonjakan kekerasan geng yang membuat warga takut meninggalkan rumah atau bepergian ke daerah tertentu karena takut akan keselamatan nyawanya.
Kondisi Haiti juga masih belum pulih dari kasus pembunuhan terhadap Presiden Jovenel Moise yang terjadi pada 7 Juli 2021 lalu.
Diketahui, Moise telah mengumumkan keadaan darurat kesehatan pada 24 Me 2021.
Ia memberlakukan jam malam dan langkah-langkah keamanan, termasuk mewajibkan penggunaan masker wajah saat memasuki area publik dan bisnis.
Namun, hanya sedikit orang Haiti yang mau mengikuti langkah-langkah tersebut saat membeli bahan makanan di pasar yang ramai atau saat naik bus yang disebut tap tap.
Bulan lalu, organisasi nirlaba St Luke Foundation for Haiti mengatakan, ketidakamanan negara itu mengganggu pasokan oksigen yang diimpor dalam bentuk cairan dan baru kemudian diubah menjadi gas dan dikirim.
“Mengisi ulang 320 tangki oksigen per hari, terutama di zona merah Port-au-Prince, merupakan pekerjaan yang sulit dan berbahaya” katanya.
SUMBER: CHANNEL NEWS ASIA
(TribunTernate.com/Rizki A.)