Breaking News:

Virus Corona

Pemerintah Bisa Longgarkan PPKM Jika 4 Pertimbangan Relaksasi Ini telah Terpenuhi, Apa Saja?

Prof Wiku Adisasmito beberkan 4 pertimbangan yang jadi pijakan pemerintah dalam menerapkan pelonggaran PPKM di masa pandemi Covid-19.

Penulis: Ronna Qurrata Ayun | Editor: Rizki A
YouTube/Sekretariat Presiden
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito beberkan empat pertimbangan yang menjadi pijakan pemerintah dalam menerapkan relaksasi atau pelonggaran PPKM di masa pandemi Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito beberkan empat pertimbangan yang menjadi pijakan pemerintah dalam menerapkan relaksasi atau pelonggaran PPKM di masa pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan oleh Wiku Adisasmito dalam Keterangan Pers Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Kamis (22/7/2021).

"Pertimbangan (relaksasi) yang diambil oleh pemerintah ini telah mencakup empat komponen pertimbangan relaksasi kegiatan masyarakat yang ditetapkan oleh WHO," ungkap Prof Wiku, dikutip dari tayangan video di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis.

Berikut empat pertimbangan relaksasi pengetatan kegiatan masyarakat di masa pandemi Covid-19 seperti yang disarankan WHO:

1. Perhitungan tren kasus dan indikator epidemiologi.

Menurut Prof Wiku, angka keterisian tempat tidur dan penambahan kasus positif harian di Indonesia terus mengalami penurunan.

Selanjutnya, untuk menetapkan syarat pelonggaran, pemerintah akan melihat perkembangan kasus ke depan.

2. Kapasitas manajemen sistem kesehatan dua arah yang melingkupi penguatan fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.

Dalam hal ini pemerintah terus mengupayakan konversi tempat tidur, pembangunan rumah sakit darurat dan lapangan, serta membangun kemitraan dengan penyedia jasa telemedisin.

Baca juga: Pandemi Covid-19 di Indonesia Tak Bisa Membaik Jika Implementasi PPKM di Lapangan Masih Rendah

Baca juga: WHO: Virus Corona Varian Delta akan Mendominasi Pandemi Covid-19 dalam Beberapa Bulan ke Depan

Baca juga: Pandemi Covid-19, Pemerintah Sudah 6 Kali Gonta-ganti Istilah, Mulai dari PSBB hingga PPKM Level 4

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Wiku: Yang Penting Disiplin, Mau PSBB atau Tidak, Kasusnya Pasti Terkendali

3. Aspirasi dan perilaku masyarakat.

Adanya tren penurunan mobilitas masyarakat dan keluhan untuk segera merelaksasi pembatasan yang cukup ketat selama satu bulan terakhir menjadi faktor penting bagi pemerintah untuk melakukan pelonggaran.

4. Dampak sosial ekonomi.

Adanya dampak sosial ekonomi yang cukup berat, khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah dan usaha mikro menjadi pertimbangan dalam melakukan pelonggaran.

Dengan demikian, jika keempat pertimbangan relaksasi tersebut terpenuhi dan angka kasus harian mengalami penurunan, maka pelonggaran PPKM akan dilakukan secara bertahap.

"Jika tren kasus Covid-19 mengalami penurunan, maka relaksasi PPKM akan dilakukan secara bertahap mulai 26 Juli 2021," tutur Prof Wiku.

Ketua Tim Pakar dan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito.
Ketua Tim Pakar dan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. (Dok. BNPB)

Namun, Wiku mengingatkan, relaksasi ini bukan berarti masyarakat bisa bebas beraktivitas seperti masa awal sebelum pandemi Covid-19.

Melainkan, secara bertahap masyarakat akan menuju kehidupan normal baru.

"Perlu diingat bahwa melakukan relaksasi bukan berarti menghapus pembatasan layaknya kembali ke masa awal sebelum pandemi Covid-19 terjadi."

"Akan tetapi, secara bertahap dan hati-hati menuju kehidupan normal yang baru sekaligus bersiap jika memang perlu dilakukan pengatatan kembali," jelasnya.

Wiku menjelaskan, ke depan relaksasi atau pelonggaran pengetatan di masa pandemi ini akan terus dievaluasi setiap dua minggu, sesuai dengan riwayat alamiah Covid-19.

"Umumnya sesuai dengan riwayat alamiah Covid-19, evaluasi pelonggaran bisa diamati setelah hari ke-10 sampai dengan ke-14."

"Dimohon kepada masyarakat agar untuk tetap waspada agar kondisi tetap terkendali dan relaksasi dapat dilakukan dengan baik," tandas Prof Wiku.

(TribunTernate.com/Ron)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved