Presiden Dituding Antikritik, KSP Moeldoko Ingatkan soal Tata Krama: Kita Orang Timur Punya Adab
KSP Moeldoko tanggapi tudingan antikritik yang ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), singgung soal tata krama dan sopan santun.
TRIBUNTERNATE.COM - Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn.) Moeldoko menanggapi adanya tudingan antikritik yang ditujukan kepada Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).
Diketahui, belum lama ini polisi melakukan pencarian terhadap pihak yang menggambar mural dengan gambar Jokowi yang pada bagian matanya ditulisi "404: Not Found".
Kini, mural yang digambar di sebuah dinding di wilayah Batuceper, Kota Tangerang tersebut telah dihapus.
Tindakan polisi yang demikian itu lantas diartikan sebagai tindakan antikritik yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi.
Mengetahui hal tersebut, KSP Moeldoko ikuti menanggapi tudingan antikritik yang ditujukan kepada Presiden Jokowi.
Menurut Moeldoko, presiden tidak pernah memikirkan kritik-kritik pedas yang datang kepadanya.
Presiden, kata Moeldoko, justru bersikap sangat terbuka dengan kritik-kritik yang ditujukan kepadanya.
"Sebenarnya dari awal presiden selalu mengatakan dan ini lebih bersifat edukatif ya, presiden sangat terbuka, nggak pernah pusing dengan kritik," tutur Moeldoko, dikutip dari keterangan persnya, Rabu (18/8/2021).
Baca juga: Jokowi Diminta Ambil Alih Masalah TWK, Moeldoko: Jangan Semua Persoalan Lari ke Presiden
Baca juga: Moeldoko Tanggapi Sidak Jokowi ke Apotek: Bukti Seorang Panglima, Terjun Langsung ke Lapangan
Namun demikian, lanjutnya, Jokowi selalu mengingatkan bahwasannya bangsa Indonesia adalah bangsa Timur yang memiliki budi pekerti.
Semestinya, kata Moeldoko, tata krama menjadi acuan bangsa Indonesia dalam bertindak dan bertutur kata.
Menurutnya, bukan berarti pemerintah anti terhadap kritik, hanya saja cara mengkritiknya yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan adab ketimuran.
"Tetapi, beliau selalu menyisipkan sebuah kalimat yang indah, 'kita orang Timur memiliki adab, jadi kalau mengkritik sesuatu yang beradab'."
"Tata krama, ukuran-ukuran culture kita itu supaya dikedepankan, bukan hanya selalu berbicara antikritik-antikritik. Tetapi, cobalah lihat cara-cara mengkritiknya itu," terangnya.
Lebih lanjut, Moeldoko menyebut, masyarakat tak jarang menyamaratakan kritik dengan fitnah, sehingga apa yang keluar sebagai kritik sering kali terdengar seperti tuduhan tanpa fakta.
Belum lagi, kata dia, alih-alih mengedukasi masyarakat, ada banyak tokoh yang justru ikut melontarkan kritik sehingga memperkeruh suasana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/moeldokoyeu21.jpg)