Breaking News:

Nurul Ghufron Berkelakar Atasan KPK Langit-langit, Novel Baswedan: Ini Arogansi atau Pelecehan?

Novel Baswedan menyebut bahwa kelakar Nurul Ghufron tentang atasan KPK adalah langit-langit merupakan cara memahami independensi yang salah.

Penulis: Rizki A. Tiara | Editor: Ronna Qurrata Ayun
Tribunnews.com/Gita Irawan
Penyidik Senior KPK Novel Baswedan usai menyerahkan laporan terkait dugaan pelanggaran HAM dalam TWK dan alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kepada Komisioner Komnas HAM di kantor Komnas HAM RI Jakarta pada Senin (24/5/2021). Novel Baswedan menyebut bahwa kelakar Nurul Ghufron tentang atasan KPK adalah langit-langit merupakan cara memahami independensi yang salah. 

TRIBUNTERNATE.COM - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menanggapi kelakar Pimpinan KPK Nurul Ghufron terkait kebalnya lembaga antirasuah tersebut dari intervensi lembaga mana pun, termasuk Ombudsman RI.

Diketahui, Nurul Ghufron menyatakan keberatan atas rekomendasi Ombudsman RI tentang polemik tes wawasan kebangsaan (TWK) 75 pegawai KPK.

Dalam pernyataannya, Nurul Ghufron sempat berkelakar bahwa atasan KPK adalah langit-langit dan lampu.

Melalui cuitan di akun Twitter-nya @nazaqistsha pada Minggu (22/8/2021), Novel Baswedan mulanya menyoroti sejumlah pemberitaan mengenai istilah 'penyintas' yang disematkan KPK untuk koruptor sehingga bisa dijadikan penyuluh antikorupsi.

Selain itu, pemberitaan yang disoroti Novel Baswedan adalah penolakan Nurul Ghufron atas rekomendasi Ombudsman RI dan kelakarnya mengenai langit-langit sebagai atasan KPK.

Dalam cuitan ini, Novel Baswedan pun menyebut perilaku para pimpinan KPK aneh dan keterlaluan.

Ia mempertanyakan, apakah mereka memang tidak paham atau tidak peduli dengan kasus korupsi yang merajalela di Indonesia.

Kemudian, Novel Baswedan menyentil istilah 'penyintas'.

Menurutnya, jika koruptor disebut sebagai 'penyintas' atau korban, korban dari apa?

Lantas, ia melanjutkan pertanyaannya, jika koruptor menjadi korban, siapakah yang menjadi pelaku? Apakah dalam istilah ini, negara yang menjadi pelaku?

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved