Peneliti MIT: Sekolah Butuh Lebih dari Udara Terbuka untuk Cegah Penularan Covid-19
Kunci untuk mengurangi penyebaran virus corona dalam ruangan adalah membatasi aliran udara horizontal yang mengalir pada tingkat pernapasan.
TRIBUNTERNATE.COM - Dalam hal mengurangi penyebaran virus corona, sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka perlu memastikan ruang kelas memiliki ventilasi yang baik.
Pada awal pandemi, para peneliti mengatakan bahwa jalur utama penularan virus corona adalah melalui droplet yang dihembuskan orang melalui batuk dan bersin atau melalui kontaminasi permukaan.
Namun, penelitian terbaru telah menemukan bahwa partikel kecil virus juga dapat menginfeksi orang lain melalui penyebaran jarak jauh.
Penyebaran jarak jauh ini dapat terjadi karena bioaerosol, yang merupakan tetesan atau partikel yang lebih kecil dari 5 mikrometer.
Bioaerosol menjadi mengkhawatirkan karena mereka dapat tetap melayang di udara untuk waktu yang lama dan bergerak searah dengan arus udara.
Sedangkan partikel droplet yang lebih besar kurang menjadi permasalahan dalam aspek penularan virus corona, karena mereka cenderung jatuh ke tanah dan diam.
Para peneliti di sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal Building and Environment, memutuskan untuk mengeksplorasi fenomena ini lebih lanjut dengan menerapkannya ke ruang kelas untuk melihat apakah adanya pembelajaran tatap muka menambah risiko paparan virus corona.
Baca juga: Mendikbudristek: Sekolah di Wilayah PPKM Level 1-3 Wajib Gelar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas
Baca juga: Kasus Covid-19 Naik Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Berikut 5 Instruksi Presiden Jokowi Terkait PTM
Dilansir dari Medical News Today, untuk mencoba memahami risiko penularan Covid-19 di sekolah, para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), mensimulasikan dua jenis ventilasi yang berbeda di ruang kelas.
Dua jenis ventilasi tersebut yakni diffuser langit-langit dan jendela terbuka.
Mereka menggunakan dinamika fluida komputasi dan hasil dari beberapa kasus untuk mengeksplorasi efek dari kedua sistem.
Para peneliti menemukan bahwa orang yang sedang tidak melakukan apa pun dapat menghasilkan sekitar 75 watt panas tubuh, dan ini menciptakan gumpalan udara hangat di sekitar mereka.
Gumpalan termal ini kemudian menarik udara dingin (dan partikel apa pun di dalamnya) dan terus naik hingga bertemu lapisan udara pada suhu yang sama.

Menurut hipotesis tim penelitian itu, ventilasi langit-langit dan diffuser dapat lebih mendorong gerakan ke atas.
Para peneliti menemukan bahwa hanya udara yang keluar dari mulut dengan kecepatan sangat rendah yang dapat naik bersama dengan napas manusia.
Oleh karena itu, tanpa masker, partikel yang keluar dari batuk dan embusan napas kuat dari mulut dapat dengan mudah keluar dan menyebar ke seluruh ruangan dengan cara berinteraksi dengan udara di sekitarnya.