Selasa, 12 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Bersiap Hidup dengan Covid-19, Ini Strategi yang Perlu Dilakukan untuk Transisi Pandemi ke Endemi

Berikut peta jalan atau roadmap untuk Indonesia agar bisa menjaga kestabilan pandemi Covid-19, sehingga masyarakat bisa hidup secara lebih normal.

Tayang:
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
ILUSTRASI Covid-19 di Indonesia membaik. - Dalam foto: Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di ruang isolasi Covid-19 di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, Selasa, (18/5/2021). 

TRIBUNTERNATE.COM - Sosiolog Bencana Nanyang Technological University Singapura, Sulfikar Amir mengatakan bahwa kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini telah memasuki fase stabilisasi.

Seperti diketahui, kasus Covid-19 di Indonesia telah melewati masa-masa kritis gelombang kedua dan makin membaik.

Hal tersebut dapat diketahui dari positivity rate yang sudah mendekati standar WHO dan tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) nasional yang stabil berada di angka 20-30 persen.

Menurut Sulfikar, ada tiga fase yang dihadapi sebuah negara dalam masa pandemi Covid-19, yakni fase supresi, fase stabilisasi, dan fase normalisasi.

Kabar gembiranya, lanjut Sulfikar, kini Indonesia telah melewati fase supresi dan sedang berada dalam fase stabilisasi.

Selanjutnya, hal yang harus menjadi fokus utama adalah bagaimana cara agar Indonesia bisa menjaga stabilitas, sehingga bisa memasuki fase hidup yang lebih normal.

"Jadi ada tiga fase, fase supresi, fase stabilisasi, dan fase normalisasi."

"Jadi, kita sebenarnya sudah masuk ke fase stabilisasi dan vaksinasi saja tidak cukup."

"Pada saat ini, momentum yang ada adalah bagaimana caranya kita menjaga stabilitas," tutur Sulfikar seperti dikutip TribunTernate.com dari kanal YouTube Kompas TV, Kamis (9/9/2021).

Baca juga: Belajar dari Krisis Covid-19 Gelombang Dua, India Mulai Bersiap Hadapi Kemungkinan Gelombang Ketiga

Baca juga: Negara Miskin Masih Kesulitan Vaksin, Negara Kaya Justru akan Miliki 1,2 Miliar Vaksin Covid-19

Sulfikar Amir
Sulfikar Amir, Sosiolog Bencana Nanyang Technological University Singapura. (YouTube/KompasTV)

Lebih lanjut, sebagai sosiolog bencana, Sulfikar pun mengusulkan sebuah peta jalan atau roadmap agar Indonesia bisa menjaga kestabilan yang ada, sehingga masyarakat bisa hidup secara lebih normal.

Menurutnya, ada lima faktor penting yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk dapat menjadikan Covid-19 sebagai endemi.

"Kami sudah mengusulkan sebuah roadmap, roadmap itu adalah cara untuk membawa Indonesia menuju ke tahap endemik. Ada lima dimensi yang perlu kita perhatikan," terang Sulfikar.

Kelima faktor tersebut menurut Sosiolog Bencana Nanyang Technological University, Sulfikar Amir adalah:

1. Perbaikan sistem data

Sulfikar mengatakan, sistem data yang baik adalah faktor penting dalam menjaga stabilitas yang sudah ada.

Sebab, dari sistem data yang baik, pemerintah dapat mengontrol pergerakan masyarakat, sehingga jika sebuah kasus ditemukan, penanganan bisa langsung dilakukan.

"Pertama adalah sistem data, bagaimana supaya sistem data ini bisa membuat kita memonitor setiap pergerakan, setiap kasus yang ada, supaya kita bisa merespons kasus dengan cepat," tutur Sulfikar.

2. Perbaikan perilaku masyarakat

Selain membuat sistem, pemerintah juga perlu mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pandemi.

Pasalnya, masyarakat merupakan pelaku utama yang dapat membuat kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia makin membaik.

Pemerintah perlu melakukan pendekatan yang persuasif agar masyarakat mau menerapkan protokol kesehatan sebagaimana mestinya.

Sebab, sistem yang baik tanpa masyarakat yang kooperatif tidak akan menghasilkan peningkatan apa pun.

"Kedua adalah aspek perilaku dari masyarakat, ada beberapa pendekatan termasuk khususnya bagaimana cara mendorong masyarakat untuk selalu menggunakan masker," kata Sulfikar.

Baca juga: Covid-19 Indonesia Membaik, dr Tirta Beberkan 4 Hal yang jadi Faktor Utama Penurunan Angka Kasus

Baca juga: 14 Provinsi Catatkan Positivity Rate Covid-19 di Bawah Standar WHO, Satgas: Jangan Sampai Lengah

3. Perbaikan lingkungan

Tak hanya sistem data, pemerintah juga perlu memastikan adanya perbaikan lingkungan, utamanya lingkungan di tempat-tempat umum yang dikelola oleh pemerintah.

Pemerintah perlu membuat regulasi yang ketat terkait lingkungan yang akan didatangi oleh masyarakat, agar risiko penularan Covid-19 dapat ditekan.

"Ketiga adalah faktor lingkungan, yaitu ruang fisik di mana kita berada, di mana kita beraktivitas, dan di situlah risiko penularan paling tinggi," kata Sulfikar.

"Jadi, bagaimana kita bisa merekayasa lingkungan sekitar kita, baik yang di luar ruangan maupun di dalam ruangan, supaya ketika kita beraktivitas risiko penularan itu menjadi minimal," imbuhnya.

4. Membuat sistem pelacakan

Faktor penting selanjutnya yang perlu dilakukan oleh pemerintah agar fase stabilisasi dapat terlewati adalah membuat sistem pelacakan yang baik.

Sistem pelacakan yang baik, menurut Sulfikar, adalah sistem pelacakan yang melibatkan masyarakat.

Keterlibatan masyarakat dalam sistem pelacakan yang ada dapat mempermudah penanganan secara cepat apabila kasus penularan ditemukan.

"Keempat adalah faktor pelacakan, jadi kita harus membentuk satu sistem pelacakan yang melibatkan masyarakat, sehingga pelacakan ini bisa berjalan dengan lebih cepat," jelas Sulfikar.

5. Pembentukan kelembagaan

Hal terakhir yang perlu dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas kondisi pandemi Covid-19 yang membaik ini adalah membentuk sebuah lembaga khusus yang menangani pandemi.

Dalam hal ini, bukan hanya pandemi Covid-19 saja, tetapi bisa jadi di masa mendatang akan ada pandemi lain yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

Sulfikar mengatakan, dengan adanya lembaga atau institusi khusus yang menangani persoalan pandemi, maka penanganan bisa lebih cepat dan terarah.

"Terakhir adalah faktor kelembagaan, karena kalau kita bicara tentang penanganan pandemi jangka panjang, kita membutuhkan sebuah institusi yang benar-benar memiliki otoritas yang bersifat permanen."

"Sehingga, kita bisa menangani permasalahan ini tidak hanya untuk Covid-19, tetapi untuk risiko pandemi di masa datang," tandasnya.

(TribunTernate.com/Ron)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved