Virus Corona
Muncul Klaster Covid-19 di Sekolah yang Gelar PTM, Seberapa Besar Risiko Anak yang Terkena Covid-19?
Sejumlah sekolah di Tanah Air jadi klaster penularan Covid-19 setelah PTM kembali digelar, lantas apa yang akan dihadapi anak yang positif Covid-19?
TRIBUNTERNATE.COM - Dalam beberapa minggu terakhir, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia telah mengalami perbaikan.
Kondisi pandemi yang membaik ini lantas membuat pemerintah berangsur-angsur kembali membuka sekolah untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
Namun demikian, sejumlah sekolah di Tanah Air justru menjadi klaster penularan Covid-19 setelah PTM kembali digelar.
Mengutip Kompas.com, berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) per 23 September 2021, sekitar 2,77 persen dari total sekolah yang melaksanakan PTM menjadi klaster penularan Covid-19.
Meskipun dari segi persentase jumlah ini terbilang kecil, namun hal tersebut tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memperluas penularan.
Terlebih, sekolah dasar dan menengah didominasi oleh anak-anak yang sebagian besar belum bisa mandapatkan vaksinasi Covid-19.
Hal ini kemungkinan bisa menimbulkan infeksi Covid-19 yang lebih serius, karena anak-anak belum terlindungi oleh vaksin.
Baca juga: Negara Berkembang Memohon pada Negara Maju untuk Tidak Menimbun Vaksin Covid-19
Baca juga: Pfizer Klaim Vaksin Covid-19 Buatannya Aman dan Efektif untuk Anak Usia 5-11 Tahun
Baca juga: WHO: Kekurangan Vaksin Covid-19 di Afrika akan Membawa Seluruh Dunia ke Titik Awal Virus Corona
Lantas, seberapa besar kemungkinan seorang anak terkena virus corona atau Covid-19?
Menurut American Academy of Pediatrics and the Children's Hospital Association, dari semua kasus Covid-19 yang ada di Amerika Serikat, 15 persen di antaranya adalah anak-anak.
Baru-baru ini, Covid-19 pada anak juga meningkat di AS sebanyak 10 persen dari jumlah total kasus yang dilaporkan.
Meskipun semua anak bisa terinfeksi Covid-19, mereka tidak akan mengalami sakit seperti yang dialami orang dewasa.
Sebagian besar anak-anak memiliki gejala yang ringan atau bahkan tanpa gejala.
Namun demikian, ada pula beberapa anak yang mengalami sakit parah akibat Covid-19.
Mengutip Mayo Clinic, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, anak-anak yang terinfeksi Covid-19 mungkin perlu dirawat di rumah sakit,
Lebih jauh, anak-anak yang terinfeksi Covid-19 ini mungkin akan dirawat di ICU atau bahkan menggunakan ventilator untuk membantu mereka bernapas.
Selain itu, anak-anak yang memiliki penyakit lain seperti obesitas, diabetes, dan asma mungkin berisiko lebih tinggi terkena gejala serius akibat Covid-19.
Anak-anak yang memiliki penyakit jantung bawaan, kondisi genetik, atau kondisi yang memengaruhi sistem saraf atau metabolisme juga mungkin berisiko lebih tinggi terkena gejala serius karena Covid-19.
Baca juga: Klaim Kasus Covid-19 Menurun, Indonesia Berusaha Bujuk Arab Saudi Buka Pintu Umrah
Baca juga: ICW Desak Jokowi untuk Ambil Sikap dalam Polemik TWK KPK, Ini 10 Alasannya
Baca juga: Novel Baswedan: Pimpinan KPK Barangkali Merasa di Atas Pemerintah
Penelitian juga menunjukkan tingkat keparahan Covid-19 yang lebih tinggi pada anak-anak kulit hitam Hispanik dan non-Hispanik daripada pada anak-anak kulit putih non-Hispanik.
Beberapa anak juga terus mengalami gejala Covid-19 meskipun telah ada di fase pemulihan.
Sementara itu, lebih jarang beberapa anak mungkin juga mengalami kondisi serius di fase pemulihan yang masih terkait dengan Covid-19.
Mengapa anak-anak bereaksi berbeda terhadap Covid-19 dibandingkan orang dewasa?
Jawabannya masih belum jelas, tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa anak-anak mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh Covid-19.
Sebab, masih ada virus corona lain yang menyebar di masyarakat dan dapat menyebabkan penyakit seperti flu biasa.
Karena anak-anak sering terkena pilek, sistem kekebalan mereka mungkin lebih prima untuk memberi mereka perlindungan terhadap Covid-19.
Mungkin juga, sistem kekebalan anak-anak berinteraksi dengan virus secara berbeda dari sistem kekebalan orang dewasa.
Beberapa orang dewasa jatuh sakit karena sistem kekebalan mereka tampaknya berinteraksi berlebihan terhadap virus, sehingga menyebabkan lebih banyak kerusakan pada tubuh mereka.
Hal tersebut mungkin lebih kecil kemungkinannya untuk bisa terjadi pada anak-anak.
(TribunTernate.com/Ron)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/ptm-tribunsumsel.jpg)