Sebut Megawati Gulingkan Gus Dur, Jubir Demokrat Sampaikan Permintaan Maaf: Saya Kepleset Lidah
Herzaky Mahendra Putra meminta maaf kepada kader PDI Perjuangan (PDIP) terkait pernyataannya soal Megawati yang menggulingkan Gus Dur.
TRIBUNTERNATE.COM - Juru bicara sekaligus Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra meminta maaf kepada kader PDI Perjuangan (PDIP) terkait pernyataannya.
Hal tersebut dilakukan oleh Herzaky karena sebelumnya ia sempat memberi pernyataan yang menyebut bahwa Megawati menggulingkan presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Mengetahui pernyataan Herzaky, Ketua DPC PDIP Kota Tangerang Selatan, Wanto Sugito merasa tersinggung dengan pernyataan tersebut.
Herzaky menjelaskan bahwa maksud dari pernyataannya adalah Megawati menggantikan Gus Dur, bukannya menggulingkan.
"Yang saya maksud, Ibu Megawati menggantikan Gus Dur. Saya mohon maaf kepada siapapun yang tidak berkenan atas kekeliruan ini," kata Herzaky, dikutip dari Tribunnews.com, Selasa (5/10/2021).
Ia mengaku salah menggunakan perbendaharaan kata dan terpleset lidah saat menjawab pertanyaan dari awak media setelah konferensi pers berlangsung.
"Mohon maaf saya kepleset lidah saat tanya jawab setelah konferensi pers," ungkapnya.

Lebih lanjut, Herzaky menegaskan tak ada maksud menyinggung dua sosok yang disebutnya itu.
Sebab, ia merupakan pengagum Gus Dur dan menghormati Megawati selaku presiden kelima RI.
"Saya ini pengagum Gus Dur dan NU. Saya juga hormat kepada Ibu Megawati sebagai mantan presiden," tandasnya.
Baca juga: Pendukung Ganjar Makin Ramai, Politisi PDIP Tegaskan Megawati Belum Tentukan Siapa Capres 2024
Kader PDIP Tuntut Demokrat untuk Minta Maaf
Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Tangerang Selatan Wanto Sugito mengaku tersinggung dengan pernyataan Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra dalam konferensi pers, Minggu (3/10/2021).
Dalam konferensi pers itu, Herzaky diketahui sempat menyebut Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menggulingkan Presiden keempat RI kala itu yakni Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
"Sebagai kader Banteng saya sangat tersinggung dengan pernyataan saudara Herzaky, Jubir Demokrat."
"Selain ngawur, Herzaky tidak paham sistem politik saat itu dimana MPR RI kedudukannya sebagai lembaga tertinggi."