Obat Covid-19 Buatan Pfizer Kurangi Risiko Gejala Berat dan Kematian sebesar 89 Persen
Pfizer mengatakan obat Covid-19 buatannya mengurangi risiko gejala berat/rawat inap dan kematian sebesar 89%.
Pihaknya kadang-kadang melewatkan langkah komite penasihat ketika terdesak untuk meluncurkan obat ke pasar dengan cepat.
Masalah keamanan telah dikemukakan oleh beberapa ahli dalam obat ini, dan komite akan mempertimbangkan sebelum FDA membuat keputusan.
FDA akan mempresentasikan perspektifnya tentang data perusahaan.
"Pertemuan itu dijadwalkan sesegera mungkin setelah pengajuan permintaan EUA oleh perusahaan," kata FDA dalam sebuah pernyataan.
Merck dan mitranya, Ridgeback Biotherapeutics, mencari otorisasi penggunaan darurat di AS untuk molnupiravir awal pekan ini.
Ini merupakan sebuah langkah menuju izin untuk obat jenis pil yang dimaksudkan untuk mengobati Covid-19 pada orang dewasa yang berisiko tinggi.
Baca juga: Obat Covid-19 Molnupiravir Dijadwalkan Tiba pada Desember 2021
Baca juga: Yayasan Bill Gates Sumbang Dana RRp57,5 Miliar untuk Atasi Kekurangan Jarum Suntik Vaksin Covid
Merck yang berbasis di Kenilworth, New Jersey, AS pada bulan Juni menyetujui kesepakatan pasokan senilai US$1,2 miliar untuk memberikan 1,7 juta program pengobatan kepada pemerintah AS setelah obat tersebut memperoleh otorisasi atau persetujuan FDA.
Obat molnupiravir bekerja dengan cara memasukkan kesalahan ke dalam materi genetik virus yang akhirnya membuat patogen mati.
Beberapa ahli mempertanyakan apakah dan bagaimana obat itu juga dapat berdampak pada pertumbuhan sel dalam tubuh manusia, yang misalnya seperti berpotensi meningkatkan risiko cacat lahir.
Nicholas Kartsonis, wakil presiden senior penelitian klinis untuk penyakit menular dan vaksin di Merck Research Labs, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia sangat terkesan dengan profil keamanan obat tersebut.
Ia pun juga menyebutkan bahwa obat molnupiravir terlihat sangat bersih.
Kartsonis menambahkan bahwa Merck telah membagikan kepada publik sejumlah data terbatas mengenai keamanan obat tersebut.
Namun perusahaan tersebut bermaksud untuk segera melaporkannya.
“Kami mengirimkan barang-barang ini ke otoritas kesehatan, dan kami akan bekerja dengan mereka saat mereka telah memeriksanya dengan cermat,” katanya.
(TribunTernate.com/Qonitah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/pfizer-hbvjkdnb.jpg)