Rabu, 3 Juni 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pengamat Sebut Menteri Berkinerja Rendah dan Pembuat Gaduh Layak Di-reshuffle, Siapa Saja?

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menyoroti kinerja beberapa menteri yang dinilainya layak untuk di-reshuffle.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengenalkan Kabinet Indonesia Maju di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). 

TRIBUNTERNATE.COM - Pada tahun kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) - Ma'ruf Amin, isu reshuffle kabinet kembali berembus.

Sejatinya, isu tersebut juga sudah berembus sejak Agustus lalu, tepatnya setelah Partai Amanat Nasional (PAN) bergabung dalam deretan partai koalisi.

Namun, isu reshuffle kabinet semakin kencang jelang pelantikan Panglima TNI yang baru, di mana Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto.

Isu perombakan atau reshuffle Kabinet Indonesia Maju pun mendapat tanggapan dari sejumlah pengamat, salah satunya pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga.

Jamiluddin menyoroti kinerja beberapa menteri yang dinilainya layak untuk di-reshuffle.

"Menteri yang berkinerja rendah, pembuat gaduh, dan yang memanfaatkan jabatan untuk meningkatkan elektabilitas, layak di reshuffle," kata Jamiluddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/11/2021).

Baca juga: China Peringatkan Warganya soal Covid-19 di Paket, Sehari Sebelum Festival Belanja Online 11.11

Baca juga: Indonesia-Malaysia Sepakati VTL, WNI yang Sudah Divaksin Bisa Masuk Malaysia Tanpa Karantina

Baca juga: Jokowi Bakal Resmikan Sirkuit Mandalika Besok Jumat, 12 November 2021

Adapun beberapa Menteri yang berkinerja rendah dan diyakini layak untuk di-reshuffle, kata Jamiluddin, yakni Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo, dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Dirinya lantas menjabarkan alasannya bisa menilai beberapa menteri tersebut memiliki kinerja rendah, kata dia, selama menjabat, Menteri Ida Fauziyah, tidak ada solusi yang mumpuni dalam mengatasi tingginya pengangguran di Indonesia akibat dampak pandemi Covid-19. 

"Para pengangguran terus bertambah akibat tidak seimbangannya permintaan dengan lowongan kerja yang tersedia," bebernya.

Selanjutnya, untuk nama Menteri Budi Gunadi Sadikin juga tidak cukup menonjol dalam penanganan Covid-19. 

Padahal katanya, sebagai Menteri Kesehatan, seharusnya Budi Gunadi Sadikin menjadi orang terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19, akan tetapi kata dia, peran itu justru diambil Luhut Binsar Panjaitan, Airlangga Hartarto, dan Satgas Covid-19.

Nama Menteri yang berkinerja rendah menurut Jamiluddin selanjutnya yakni, Tjahjo Kumolo.

Dia mengatakan, Tjahjo tidak memiliki gebrakan monumental terkait reformasi birokrasi. 

"Bahkan gaung revolusi mental sudah tidak terdengar," ucapnya.

Lanjut, Jamiluddin, nama menteri yang berkinerja rendah selanjutnya yakni, Johnny Gerard Plate, dirinya menilai menteri dari Partai NasDem itu tidak berbuat banyak dalam membenahi bidang komunikasi, khususnya sistem komunikasi Indonesia belum ada. 

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved