Breaking News:

Mahfud MD Sebut Densus 88 Tidak Asal Tangkap Terduga Kasus Terorisme: Sudah Dibuntuti Pelan-pelan

Mahfud MD menyebut, Densus 88 Antiteror Polri tidak asal tangkap dalam bertugas menangkap para pelaku terduga terorisme.

Editor: Rizki A
Instagram @faridokbah_official/muhammadiyahcileungsi.org/nurulhudakaffah.com
KOLASE FOTO Ustaz Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad. 

TRIBUNTERNATE.COM - Penangkapan tiga terduga teroris oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mendapat tanggapan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD.

Tiga orang terduga pelaku terorisme itu adalah Ahmad Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah dan Anung Al-Hamad.

Diketahui, Zain An-Najah sendiri merupakan salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Mahfud MD menyebut, Densus 88 Antiteror Polri tidak asal tangkap dalam bertugas menangkap para pelaku terduga terorisme.

"Menangkapi orang sembarangan, melanggar marwah majelis ulama, sehingga seakan-akan pemerintah diperhadapkan sedang bersitegang dengan Majelis Ulama Indonesia," katanya dalam kanal Youtube Kemenkopolhukam RI, Sabtu (20/11/2021).

Dia mengatakan bahwa Densus 88 sudah lama melakukan pengawasan sebelum menangkap Ahmad Farid Okbah, Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad.

"Itu semua yang dibuntuti pelan-pelan, karena kalau langsung nangkap, nanti berlebihan asal tangkap," tambahnya.

Dia mengatakan, dalam Undang-Undang Terorisme, penangkapan terduga teroris harus disertai dengan bukti kuat.

Baca juga: 31.634 Terima Bansos, Ini Penjelasan Mensos RI dan Menko PMK, Wakil Ketua MPR Lontarkan Kritikan

Baca juga: Rekonstruksi Kasus Tewasnya Mahasiswa UNS saat Diklat Menwa: Korban Sudah Lemas tapi Masih Dipukul

Baca juga: Arteria Dahlan Sebut Polisi, Jaksa, dan Hakim Tidak Boleh Di-OTT, Novel Baswedan: Belajar di Mana?

Ustaz Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad
Ustaz Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad (Instagram @faridokbah_official/muhammadiyahcileungsi.org/nurulhudakaffah.com)

"Sebelum buktinya cukup kuat, tidak boleh menangkap teroris karena Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 hukum khusus untuk terorisme dengan treatment-treatment khusus juga tidak boleh sembarangan," kata Mahfud.

"Oleh sebab itu, begitu ditangkap, itu harus bisa meyakinkan bahwa ini nanti bisa dibuktikan di pengadilan kalau menggunakan UU Terorisme. Kalau menggunakan UU lain kadang kala bisa gagal. Tapi kalau terorisme, sudah lengkap bukti-buktinya," tandasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved