Gunung Semeru Meletus
Tak Hanya Trauma Erupsi Susulan, Para Pengungsi Gunung Semeru Juga Takut Adanya Pelaku Kejahatan
Meski sudah lewat tiga pekan pasca Erupsi Gunung Semeru, namun para pengungsi masih dihantui rasa takut dan mengalami trauma.
TRIBUNTERNATE.COM - Meski sudah lewat tiga pekan pasca Erupsi Gunung Semeru, namun para pengungsi masih dihantui rasa takut dan mengalami trauma.
Seperti diketahui, Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi besar pada Sabtu, 4 November 2021.
Erupsi tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya aba-aba, sehingga warga yang tinggal di dekatnya panik dan terpaksa harus meninggalkan rumah mereka tanpa persiapan.
Perasaan trauma itu dialami salah satu warga yang tinggal di zona merah lereng Gunung Semeru, yakni Faiqotul Himma (21).
Ia mengaku masih merasakan trauma hingga hari ini, bahkan merasa ketakutan setiap hari terutama di malam hari.
Ketakutan dan trauma itu diakibatkan oleh erupsi susulan yang terjadi beberapa, tak hanya di pagi, siang atau sore hari, tetapi juga di tengah malam.
Hal ini diungkapkan Faiqotul Himma saat ditanya apa yang ia rasakan saat ini pasca erupsi Semeru dalam webinar yang digelar Rumah Polymath, Minggu (26/12/2021) bertema 'Sehat Mental Di Tengah Erupsi Semeru'.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah kaum pria secara bergiliran terjaga di tengah malam.
"Mereka ronda untuk berjaga-jaga bila ada erupsi, bisa segera membangunkan warga. Selain itu juga mencegah terjadinya pencurian," ujar wanita yang akrab disapa Fafa tersebut.

Gadis berhijab itu mengaku rasa trauma bukan saja disebabkan dari potensi erupsi yang hingga kini masih terus terjadi, namun juga dari pelaku-pelaku kejahatan yang mengambil kesempatan saat warga mengungsi.
"Mereka mencuri rumah-rumah yang ditinggal kosong. Termasuk mencuri hewan ternak. Sudah beberapa kali kejadian disini," ungkap Fafa yang tinggal di Desa Sumber Wuluh, Candipuro, Lumajang itu.
Mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Malang tersebut mengaku kegiatan psikososial yang dilakukan sejumlah lembaga kemanusiaan belum menyentuh para pengungsi "rumahan".
Baca juga: Kisah Nemo, Anjing yang Bertahan 12 Hari di Zona Bahaya Erupsi Gunung Semeru, Setia Tunggu Tuannya
Baca juga: Baliho Puan Maharani Terpampang di Lokasi Bencana Gunung Semeru, Ini Kata Ketua Fraksi PDIP
"Rata-rata kegiatan trauma healing dilakukan di posko-posko pengungsi. Sedangkan kita yang menginap di rumah kerabat atau tetangga belum tersentuh. Padahal kami disini tak kalah stresnya dengan yang di pengungsian," keluhnya.
Dikatakannya, ada sekali dua kali lembaga yang mengajukan kegiatan psikososial bagi warga yang tidak mengungsi di posko.
Namun begitu warga berdatangan untuk mengikuti, ternyata pihak lembaganya yang tidak hadir.