Kesultanan Ternate
Batang Pohon Pisang, Sebuah Simbol Kearifan Lokal dan Filosofi Ela-Ela bagi Kesultanan Ternate
Membakar ele-ela dengan media batang pohon pisang merupakan simbil kearifan lokal dan makna tersendiri bagi Keraton Kesultanan Ternate
Penulis: Laode Havidl | Editor: Munawir Taoeda
TRIBUNTERNATE.COM - Hingga kini, Keraton Kesultanan Ternate masih memegang erat tradisi Ela-Ela atau bakar obor.
Tat kala menyambut malam seribu bulan, malam Lailatul Qadar dikala 27 Ramadan.
Pembakaran Ela-Ela, dengan media batang pohon pisang merupakan kearifan lokal yang perlu dijaga.
Di mana hal itu memiliki makna, karena keseluruhan pohon dapat dimanfaatkan.
Baca juga: Warga Padati Pasar Rakyat Jailolo di Halmahera Barat Sejak Pagi
Begitu juga dengan manusia, agar diharapkan bisa bermanfaat bagi sesama.
Di Kota Ternate, Ela-Ela di terbagi terdiri beberapa jenis. Pertama, dibakar dengan media batang pohon pisang.
Yang diatasnya terdapat damar, bercampur minyak tanah.
Kedua, dibakar dengan media bambu, yang diujungnya diberikan sumbu.
Dan ketiga, dibakar dengan media botol bekas, yang dikepala botol dikasih sumbu.
Namun pada Keraton Kesultanan Ternate, Ela-Ela dibakar dengan menggunakan Batang Pisang dan Damar.
Dari amatan TribunTernate.com, Kedaton Kesultanan Ternate, Kamis (28/4/2022) pukul 19.20 WIT.
Di pintu masuk kedaton, terlihat dua penjaga berpakaian putih, dan terdapat pelindung diri dibagikan depan berwarga keemasan.
Keduanya mengenakan topi dari besi berwarna ke emaskan, memegang Salawaktu di tangan kiri dan tombak di tangan kanan.
Kedua pengawal berdiri tegak di depan pintu gerbang, untuk menjaga keamanan dari Keraton Kesultanan Ternate.
Setelah memasuki gerbang, mulai tercium aroma damar yang dibakar di atas batang pohon pisang.