Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Korea Utara Kerahkan Militer untuk Tangani Pandemi, Korea Selatan Nyatakan Siap Beri Bantuan

Korea Utara mengerahkan pasukan militernya untuk menangani pandemi Covid-19 yang baru melanda negara itu.

AFP via France24
Militer Korea Utara dikerahkan untuk menangani pandemi Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Korea Utara mengerahkan pasukan militernya untuk menangani pandemi Covid-19 yang baru melanda negara itu.

Petugas medis militer Korea Utara meningkatkan distribusi obat-obatan untuk memerangi wabah virus corona yang semakin berkembang.

Media pemerintah Korea Utara mengatakan, pada hari Selasa (17/5/2022) jumlah kasus "demam" yang dilaporkan mendekati 1,5 juta kasus.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah memerintahkan lockdown nasional untuk memperlambat penyebaran penyakit di tengah masyarakatnya yang tidak divaksinasi.

Kim pun akhirnya mengerahkan militer setelah menganggap gagal penanggulangan awal terhadap wabah tersebut.

Ratusan personel berseragam kamuflase dari unit medis Tentara Rakyat Korea terlihat berkumpul di ibu kota Pyongyang dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

"Militer segera mengerahkan pasukannya yang kuat ke semua apotek di Kota Pyongyang dan mulai memasok obat-obatan di bawah sistem layanan 24 jam", kata KCNA seperti dikutip dari France24.

Satu foto KCNA menunjukkan tentara berjalan di samping barisan panjang truk hijau.

Baca juga: Korea Utara Kembali Laporkan 21 Kasus Kematian dan Lebih dari Seratus Ribu Orang Bergejala Demam

Baca juga: Akhirnya Pecah Juga, Korea Utara Hadapi Gelombang I Covid-19, Seluruh Penduduknya Belum Divaksinasi

Sementara itu, Kim telah mengecam keras pejabat kesehatan karena kegagalan mereka untuk menjaga apotek tetap buka.

Kim telah menempatkan dirinya di depan dan pusat tanggapan Covid negara itu sejak kasus pertamanya diumumkan pekan lalu.

Menurut laporan KCNA, pihak berwenang telah melaporkan lebih dari 1,48 juta kasus "demam" pada Senin malam, dengan jumlah kematian 56 orang.

"Setidaknya 663.910 berada di bawah perawatan medis," kata badan tersebut.

Selain itu, otoritas Korea Utara juga telah meningkatkan kampanye kesadaran media dan pabrik-pabrik farmasi telah meningkatkan produksi obat-obatan.

Diketahui, menurut para ahli, Korea Utara memiliki salah satu sistem perawatan kesehatan terburuk di dunia

Rumah sakit di negara tersebut, tidak memiliki peralatan tidak lengkap, hanya memiliki beberapa unit perawatan intensif, dan tidak ada obat perawatan Covid atau kemampuan pengujian massal.

Baca juga: Aturan Covid-19 Dicabut, Pekerja Muda Korea Selatan Takut Tradisi Hoesik Kembali Hidup, Apa Itu?

“Sebagian besar warga Korea Utara kekurangan gizi kronis dan tidak divaksinasi, hampir tidak ada obat yang tersisa di negara itu, dan infrastruktur kesehatan tidak mampu menangani pandemi ini,” Lina Yoon, peneliti senior Korea di Human Rights Watch, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Dia mendesak masyarakat internasional untuk menawarkan obat-obatan, vaksin dan infrastruktur ke Korea Utara.

Sementara itu, menurut laporan Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Pyongyang sejauh ini belum menanggapi tawaran bantuan dari Seoul.

Presiden baru Korea Selatan, Yoon Suk-yeol mengatakan kepada anggota parlemen pada Senin 16 Mei lalu bahwa dia siap memberikan bantuan untuk Korea Utara, jika Pyongyang mau menerima.

Sementara itu, terlepas dari krisis Covid, citra satelit baru menunjukkan Korea Utara telah melanjutkan pembangunan reaktor nuklir yang sudah lama tidak aktif.

Amerika Serikat dan Korea Selatan telah memperingatkan bahwa Kim sedang bersiap untuk melakukan uji coba nuklir lainnya di negara itu.

(TribunTernate.com/Qonitah)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved