Virus Corona
Sebut Covid Varian Baru akan Terus Ada, dr Tirta: Tidak Perlu Heboh-heboh
Menurutnya hal yang membuat varian-varian baru ini akan lebih jinak adalah karena pencapaian vaksin.
TRIBUNTERNATE.COM - Dokter sekaligus influencer Tirta Mandira Hudhi mengatakan virus corona penyebab penyakit Covid-19 akan terus bermutasi dan varian baru akan terus ada.
Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat tidak menanggapinya dengan heboh.
Hal ini ia sampaikan melalui sebuah postingan dalam akun instagram pribadinya @dr.tirta, Selasa (14/6/2022).
"Covid varian baru akan terus ada."
"Tapi tunggu dulu. Apakah mutasi itu terbukti lebih menular? Lebih menimbulkan gejala berat? Ya belum tentu." tulis dr Tirta.
Menurutnya hal yang membuat varian-varian baru ini akan lebih jinak adalah karena pencapaian vaksin.
Terlebih, menurutnya, sudah banyak pula masyarakat yang terjangkau oleh booster.
Oleh karena itu, kata dr Tirta, semestinya antibodi masyarakat telah beradaptasi.
"Lalu kenapa heboh jika tahu cara mencegahnya?" katanya.
"Anda sudah tahu cara mencegahnya."
Dr Tirta mengatakan, cara pencegahan yang utama yaitu dengan menjaga kebersihan seperti melakukan rutinitas.
"Cuci tangan. Dan kalau tidak enak badan rehat bedrest di rumah."
"Kalau Anda tahu cara mencegahnya, harusnya tidak perlu heboh-heboh," pungkasnya.
Baca juga: Ternyata Hanya Terbantu Vaksin, Peneliti Ungkap Sebenarnya Omicron sama Parahnya seperti Varian Lain
Baca juga: Varian Baru Omicron XE, Gabungan dari Omicron BA.1 dan BA.2, jadi Varian Covid yang Paling Menular
Apakah Varian BA.4 dan BA.5 Mengkhawatirkan?
Peningkatan penularan varian Omicron yang sangat cepat telah menyebabkan munculnya sejumlah sub-varian.
Terbaru, sub-varian BA.4 dan BA.5 mulai terdeteksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Sub-varian BA.4 dan BA.5 menyebar lebih cepat dibandingkan varian-varian sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Indonesia mengatakan, kasus Covid-19 di Indonesia juga mulai naik dalam beberapa hari terakhir.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Melansir The Straits Times, berikut beberapa hal yang perlu diketahui sejauh ini tentang dua varian baru ini, BA.4 dan BA.5.
Omicron telah menyebar dengan cepat, dan kecepatan ini telah memberinya banyak kesempatan untuk bermutasi, serta memperoleh mutasi spesifiknya sendiri.
Beberapa sub-varian ini termasuk BA.1, BA.2, BA.3, BA.4 dan BA.5.
Sub-varian ini telah terdeteksi di lebih dari selusin negara, dengan tingkat deteksi yang paling tinggi di Afrika Selatan.
Ada beberapa bukti bahwa BA.4 dan BA.5 lebih dapat untuk menginfeksi ulang orang yang sebelumnya pernah terinfeksi BA.1 atau garis keturunan lainnya.
Ada juga kekhawatiran bahwa sub-varian ini dapat menginfeksi orang yang telah divaksinasi.
Profesor Dale Fisher, konsultan penyakit menular senior di National University Hospital, mengatakan penting untuk memantau genetika yang berkembang dari virus Sars-CoV-2 untuk melacak tingkat keparahan penyakit.
“Saat ini, sub-varian ini terlihat mirip dengan varian Omicron asli meskipun ada beberapa mutasi tambahan yang memberikan keunggulan pertumbuhan dibandingkan versi awal Omicron."
"Oleh karena itu, kami melihat BA.4 dan BA.5 menjadi lebih umum di Afrika Selatan, AS, dan banyak negara Eropa,” jelas Profesor Fisher.
“Kami tidak merasakan peningkatan keparahan penyakit dari varian ini, tetapi varian ini penting untuk diwaspadai."
“Virus corona akan terus berevolusi sehingga proses penemuan varian baru ini tidak akan pernah berakhir bahkan setelah Covid-19 benar-benar menjadi endemi” kata Prof Fisher.
Baca juga: Update Covid-19 Indonesia Selasa, 14 Juni 2022: Melonjak, 930 Kasus Baru, Kasus Aktif Tembus 5.000
Baca juga: Kajian Awal di Israel Sebut Hepatitis Akut Berkaitan dengan Virus Corona Subvarian Omicron BA.2
Sementara itu, Associate Professor Alex Cook, wakil dekan penelitian di Saw Swee Hock School of Public Health Universitas Nasional Singapura, mengatakan komentar serupa.
Iamengatakan bahwa penemuan sub-varian ini telah diduga sebelumnya.
Selain itu, menurutnya, sub-varian baru akan terus berlanjut muncul dan akhirnya mengarah ke gelombang baru.
Meskipun demikian, varian ini dikatakan tidak perlu memicu kekhawatiran yang tidak semestinya.
"Kami memperkirakan gelombang Covid-19 di masa depan akan terjadi karena salah satu dari dua hal: kekebalan yang menurun, perlindungan yang berkurang seiring waktu, dan mutasi virus lebih lanjut ke bentuk yang banyak tidak kebal," kata Prof Cook.
"Namun, harapannya adalah bahwa bahkan ketika kekebalan terhadap infeksi virus dominan turun, perlindungan terhadap gejala berat akan berkurang, sehingga sistem kesehatan tidak akan terancam seperti pandemi yang mengancam dalam beberapa gelombang pertama."
"Kecuali fasilitas kesehatan kewalahan, seharusnya kita tidak memerlukan tindakan yang mengganggu kehidupan sosial seperti yang kita lakukan dalam beberapa tahun terakhir," tambah Prof Cook.
(TribunTernate.com/Qonitah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/dr-tirta-hbskjgdb.jpg)