Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Ampas Kelapa Berharga dari Halmahera Timur di Maluku Utara

Petani kelapa di Halmahera Timur berhasil mentulap limbah kelapa menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi secara kreatif.

Editor: Munawir Taoeda
TribunTernate.com/Istimewa
EKONOMIS: Para peteni kelapa di Halmahera Timur, Maluku Utara berhasil berinovasi atau menyulap limbah, menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi, Sabtu (27/8/2022). 

TRIBUNTERNATE.COM - Ini tentang ampas kelapa yang kemudian bisa "disulap", menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.

Sebuah aktivitas yang menginspirasi. Program pemberdayaan masyarakat tersebut tengah bergulir di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Adalah MIND ID holding tambang BUMN yang menggagasnya. Ujungnya, berkat inovasi mengubah limbah kelapa menjadi 'emas' itu IDX Channel Anugerah Inovasi Indonesia (ICAII) 2022 mengganjarnya dengan penghargaan.

Nah kita kembali ke ampas kelapa. Siapa sangka, ampas kelapa bisa direkayasa menjadi benda-benda bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga. Misalnya, seperti mangkok, fiber dan lain-lain.

Baca juga: BPVP Ternate Masih Membuka Pendaftaran Paket Non Bording Tahap V 2022

"Bahkan bisa menjadi bioenergi yang ramah lingkungan, "ujar Dany Amrul Ichdan, Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, di Jakarta belum lama ini.

Petani kelapa di Halmahera Timur berhasil menyulap limbah menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi.
Petani kelapa di Halmahera Timur berhasil menyulap limbah menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi. (TribunTernate.com/Istimewa)

Dany berharap, inisiasi MIND ID itu kelak bisa menggurita dan mengangkat kesejahteraan rakyat. Di samping, menjadi bagian dari program menjaga alam sekaligus menata sirkulasi sampah atau limbah.

Tentu tidak berlebihan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kelapa nasional mencapai 2,85 juta ton pada 2021.

Sedangkan, pohon kelapa sendiri terkenal sebagai salah satu pohon yang hampir semua bagiannya bermanfaat. Karena itu, ia disebut "the most versatile plant".

Mengubah "sampah menjadi berkah" sejatinya bisa dilakukan siapa saja dan di mana saja, bahkan dengan "limbah" apa saja.

Masyarakat pesisir misalnya, acap memanfaatkan tempurung atau sabut kelapa untuk bahan kerajinan (handicraft).

Termasuk memanfaatkan cangkang kerang laut, sisik ikan, dan tulang ikan. Produknya berupa hiasan dinding, kalung, gelang, dan lain-lain.

Sementara masyarakat pegunungan, acap memanfaatkan limbah organik menjadi tas atau barang kerajinan.

Misalnya pemanfaatan kulit buah-buahan, yang bertekstur keras seperti salak, durian, atatu kulit petai cina (lamtoro).

Sedangkan masyarakat yang mukim di daerah pertanian, juga bisa memanfaatkan limbah berupa Jerami padi, kulit jagung, batang daun singkong, bahkan kulit bawang enjadi benda berharga.

Selain menjadi benda kerajinan tangan yang unik, bisa juga untuk bahan bangunan (atap, lantai atau dinding).

Halaman
123
Sumber: Tribun Ternate
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved