Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Resesi 2023

Jangan Panik Tarik Investasi karena Ancaman Resesi Global 2023, Ini Alasannya

Berikut tips dari ahli manajemen keuangan pribadi terkait seputar investasi dan cara menghadapi ancaman resesi global di 2023 nanti.

Editor: Ifa Nabila
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi investasi pasar saham. Berikut tips dari ahli manajemen keuangan pribadi terkait seputar investasi dan cara menghadapi ancaman resesi global di 2023 nanti. 

TRIBUNTERNATE.COM - Rasa panik dan takut wajar dirasakan oleh orang-orang terhadap ancaman resesi global yang diprediksi akan terjadi di tahun 2023 nanti.

Seperti yang diketahui, resesi dapat menyebabkan naiknya harga komoditi yang kemudian akan mengakibatkan PHK besar-besaran serta bangkrutnya perusahaan-perusahaan yang rentan terdampak.

Namun sejumlah pakar menyarankan agar jangan panik di tengah ancaman resesi.

Baca juga: Dosen Unhas Sebut Nasib Pendidikan Anak-anak Warga Miskin Terancam Terputus saat Resesi Global 2023

Baca juga: IMF Prediksi Indonesia Bakal Aman di Tengah Ancaman Resesi Global 2023

Dikutip dari World Economic Forum, ahli keuangan pribadi Emilie Bellet menyarankan kepada para investor agar tidak gegabah menarik investasi mereka.

“Jika Anda sudah menjadi investor, penting untuk tidak panik dan tetap fokus pada tujuan jangka panjang,” jelas Bellet.

Bellet justru menyarankan bahwa investasi harus terus dilakukan secara berkala karena pasti menghasilkan.

Pakar keuangan pribadi yang lain yakni Steve Chen menyarankan pentingnya memiliki aplikasi pengatur bujet untuk mengatur keuangan.

Baca juga: Pertumbuhan Microsoft hingga Google Mulai Menurun, Tanda Ekonomi Merosot akibat Resesi Global?

Pendiri Personal Finance Club, Jeremy Schneider mengatakan wajib untuk menjaga agar pengeluaran kebutuhan rumah tangga tidak lebih tinggi dibanding pendapatan.

Schneider juga menekankan pentingnya untuk terus menabung di tengah situasi ekonomi yang sulit.

“Kebiasaan yang dilakukan orang kaya adalah mereka tidak memikirkan minggu ini. Mereka memikirkan enam bulan, atau satu tahun, atau lima tahun dari sekarang,” papar Schneider.

Baca juga: Hadapi Ancaman Resesi 2023, Ridwan Kamil: Dunia Gelap, Indonesia Tetap Terang Benderang

Sebagai informasi, dikutip dari Kompas, definisi resesi menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah suatu kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk.

Kondisi ini terlihat dari produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Secara garis besar, resesi menimbulkan tiga dampak negatif.

Pertama, perlambatan ekonomi yang mengakibatkan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) bahkan bangkrutnya perusahaan.

Kedua, investor menarik dananya dan mengubahnya dalam bentuk aman.

Ketiga, daya beli masyarakat akan melemah sehingga jumlah demand di pasar akan berkurang karena masyarakat akan sangat berhati-hati dalam membeli keperluan.

Resesi sendiri diakibatkan oleh bermacam faktor, mulai dari kejadian tak terduga seperti Covid-19 hingga tingginya utang suatu negara.

(TribunTernate.com/Qonitah)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved