Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Terkini Internasional

Perang Saudara Meletus di Sudan: 97 Orang Tewas, Negara Tetangga Serukan Aksi Kekerasan Diakhiri

Pada hari Minggu lalu, negara tetangga dan badan regional meningkatkan upaya mereka untuk mengakhiri kekerasan di Sudan.

AFP
Asap tebal mengepul di atas gedung-gedung di sekitar bandara Khartoum pada 15 April 2023, di tengah bentrokan di ibu kota Sudan. Ledakan mengguncang ibu kota Sudan pada 15 April ketika paramiliter dan tentara reguler saling menyerang pangkalan satu sama lain, beberapa hari setelah tentara memperingatkan negara itu berada pada titik balik yang "berbahaya". 

TRIBUNTERNATE.COM - Perang saudara meletus di negara Afrika Utara, Sudan.

Gejolak konflik dimulai saat pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RFS) dan aparat keamanan bertempur memperebutkan kekuasaan sejak Sabtu (15/4/2023).

Diketahui, Sudan telah mengalami kudeta pada 2021 silam.

Pada hari ketiga pecahnya perang saudara, pengeboman dan hujan tembakan masih terjadi di wilayah ibu kota Sudan, Khartoum.

Atas peristiwa tersebut, menurut data yang diterbitkan oleh Komite Pusat Dokter Sudan pada Senin (17/4/2023), jumlah korban sipil meningkat setidaknya menjadi 97 orang dan korban terluka mencapai 365 orang.

Bentrokan meletus pada Sabtu lalu terjadi karena perebutan kekuasaan yang berkelanjutan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) Abdel Fattah al-Burhan dan kelompok paramiliter yang berpengaruh, Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang dipimpin oleh wakilnya, Mohamed Hamdan Daglo.

Dikutip dari laman Russia Today, Selasa (18/4/2023), tiga karyawan Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) termasuk di antara mereka yang tewas dalam aksi kekerasan tersebut.

Situasi ini pun memaksa organisasi itu menghentikan operasinya untuk sementara waktu di Sudan.

Baca juga: 17 Tahun Menikah, Ari Wibowo Gugat Cerai Istrinya: Tak Beri Nafkah dan Kini Minta Hak Asuh Anak

Baca juga: 2 Bocah Tewas Tenggelam di Kolam Renang Anggota DPRD Bogor, Ditemukan Sudah Mengambang

Baca juga: Video Viral 2 Pemuda Seret Katana di Sepanjang Jalan, Digesek di Aspal Bikin Warga Resah

Asap tebal mengepul di atas gedung-gedung di sekitar bandara Khartoum pada 15 April 2023, di tengah bentrokan di ibu kota Sudan. Ledakan mengguncang ibu kota Sudan pada 15 April ketika paramiliter dan tentara reguler saling menyerang pangkalan satu sama lain, beberapa hari setelah tentara memperingatkan negara itu berada pada titik balik yang
Asap tebal mengepul di atas gedung-gedung di sekitar bandara Khartoum pada 15 April 2023, di tengah bentrokan di ibu kota Sudan. Ledakan mengguncang ibu kota Sudan pada 15 April ketika paramiliter dan tentara reguler saling menyerang pangkalan satu sama lain, beberapa hari setelah tentara memperingatkan negara itu berada pada titik balik yang "berbahaya". (AFP)

Kedutaan Besar India di sana juga mengumumkan pada Minggu bahwa salah satu warga negaranya 'yang bekerja di Perusahaan Dal Group di Sudan terkena peluru nyasar' pada Sabtu lalu dan ia 'tewas karena luka-luka yang dideritanya'.

Sementara itu, maskapai asing termasuk Qatar Airways dan Kenya Airways telah menangguhkan penerbangan ke dan dari negara yang dilanda konflik itu di tengah pertempuran dan penutupan Bandara Internasional Khartoum.

"Ada keprihatinan mendalam bersama tentang pertempuran dan kekerasan yang terjadi di Sudan, ancaman yang ditimbulkan terhadap warga sipil, yang ditimbulkannya terhadap bangsa Sudan dan berpotensi menimbulkan bahkan ke wilayah tersebut," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, selama pertemuan di Jepang bersama rekannya dari Inggris, James Cleverly.

Di sisi lain, Rusia sebelumnya telah menyuarakan keprihatinan tentang situasi di Sudan dan telah mendorong 'pihak-pihak yang berkonflik untuk menunjukkan kemauan politik dan menahan diri serta mengambil tindakan segera untuk menghentikan tembakan'.

Pada hari Minggu lalu, negara tetangga dan badan regional meningkatkan upaya mereka untuk mengakhiri kekerasan di Sudan.

Para pemimpin dari Afrika Timur dilaporkan mengadakan sesi pertemuan virtual darurat dan mendesak penghentian segera permusuhan antara pihak-pihak yang berkonflik.

Selain itu, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Sudan Selatan Salva Kiir menyatakan kesediaan mereka untuk menengahi resolusi konflik, selama panggilan telepon.

Sementara itu, Panglima militer Sudan dikatakan telah menyatakan RSF sebagai organisasi pemberontak pada Senin kemarin dan telah memberikan arahan untuk pembubaran segera.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Perang Saudara di Sudan: Jumlah Warga Sipil yang Tewas Hampir 100 Orang

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved