Pemkab Morotai
Ini Pandangan Pj Bupati Morotai Soal Praktik Moderasi Beragama di Kehidupan Sehari-hari
Berikut ini pandangan Pj Bupati Morotai soal praktik moderasi beragam di kwhidupan sehari-hari
Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Munawir Taoeda
"Artinya bahwa, sebagian besar dari kita memiliki ikatan darah, atau 'Ria De Nengoru' (bahasa Galela), "cetusnya.
Di kesempatan itu, Pj Bupati dua periode ini pun lantas mempertanyakan, sejak kapan?
Persoalan kerukunan menjadi hal yang sering dibahas, dan kerap menjadi isu yang licin, sehingga perlu moderasi.
Sehingga Ia pun meminta agar dapat melihat ke belakang, bahwa, di salah satu patahan sejarah.
Dimana menurutnya, semua pernah menjadi alat permainan, atas orang-orang tidak bertanggung jawab yang menginginkan bangsa indonesia terpecah-belah.
"Tanpa mengurangi rasa hormat dan kebahagiaan kita hari ini, saya hendak menyatakan bahwa kegelapan sejarah itu,".
"Tidak sepantasnya terjadi, dan harus dikubur dalam-dalam, karena telah memporak-porandakan bangunan kekeluargaan di antara kita sekalian,"pintahnya.
Dikatakannya, dari sanalah menjadi satu faktor pendorong, kemudian bercampur dengan pemahaman.
Dan tafsir yang keliru dari sebagian kelompok keagamaan, dalam spektrum ideologi.
Sehingga, memiliki kecenderungan untuk bertindak radikal atau mempunyai pemahaman yang mengakar.
Memiliki fanatisme berlebihan terhadap apa yang diyakini, sehingga menganggap keyakinan orang lain adalah salah.
Menggangu eksistensi, menggerus keimanan dan lain
sebagainya.
Sehingga lanjutnya, anggapan itu, berkonsekuensi terhadap upaya saling menolak atau mengabaikan satu kelompok agama dengan kelompok lainnya.
"Dalam situasi ekstrim, fanatisme buta yang berujung radikalisme, sering melahirkan teror yang memakan korban,"
"Kelompok ekstrimis ini, tidak akan dimiliki satu identitas keagamaan. akan tetapi ada di setiap kelompok yang mengaku beragama,"katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Proggram-Pemkab-Morotai-soal-Kampung-Modernisasi-Beragama.jpg)