Kisah Saiful Gares, yang Kekeh Pekerjakan Pegawai Meski Harga Kopra Tak Lagi Primadona
Demi karyawan, Saiful Gares rela bertahan jadi pengepul buah kelapa di tengah harga kopra lagi anjlok
Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Munawir Taoeda
TRIBUNTERMATE.COM, MOROTAI - Cerita pengepul buah kelapa di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Pengepul itu bernama Saiful Gares, yang masih bertahan meski harga kopra tak lagi primadona.
Rabu (13/9/2023), saat ditemui di lokasi pengasapan kopranya di di Desa Joubela, Morotai Selatan.
Ia menceritakan hiruk pikuknya, saat harga kopra anjlok di awal tahun 2023.
Baca juga: Berkas Belum Lengkap, Polres Morotai Bebaskan Seorang Tersangka Kasus Narkoba
Di mana usaha yang ia bangun itu, dengan niat untuk mempekerjakan keluarga.
Teman dan warga setempat, untuk dapat mendapatkan pundi-pundi rupiah lewat usahanya itu.
"Jadi pas harga kopra turun di awal tahun, sampai saat ini saya tetap beroperasi ini."
"Lantaran saya pikirkan nasib karyawan juga, "ceritanya dengan nada sedih.
Diceritakan, awal harga kopra masih normal, karyawan yang ia pekerjakan sekitar 30 orang.
"Sebelumnya saya punya karyawan banyak, sampai 30 orang, ada yang kerja pengasapan, ada lewang, ada yang belah."
"Tapi sekarang sisa 15 orang, perempuan 5 laki-laki 7, "ungkapnya.
Menurutnya, saat ini buah kelapa dijual Rp 600 per buah, hal itu karena harga kopra turun jauh.
"Kopra dihargai Rp 6,500 per kilogram, yang sebelumnya Rp 10 ribu per kilogram."
"Makanya saya beli buah kelapa Rp 600 per buah kelapa, sebelumnya Rp 1,200 per buah, "akunya.
Lanjutnya, ia juga memutar otaknya agar usaha ini masih bisa bertahan, seperti mengolah tempurung kelapa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Kisah-Saiful-Gares-yang-masih-pekerjakan-pegawai-meski-harga-kopra-sedang-anjlok-Morotai.jpg)