Dilema Gender dan Politik Maluku Utara
Maluku Utara terdapat fakta politik yang ternyata mendeskripsikan keberhasilan para pemimpin perempuan
Anthony Giddens (2000: 57) dalam karya bertajuk Jalan Ketiga Pembaruan Dekomrasi Sosial, mengatakan penempatan isu-isu ekologis dan isu lainnya termasuk isu gender dalam ruang politik, dikarenakan adanya penurunan kepercayaan terhadap para politikus dan cara kerja politik ortodoks, seperti yang terjadi di sebagian besar negara industrial.
Terlepas dari itu perempuan yang melekat potensi dan status ibu, mampu merawat benih kasih anak manusia, yang sejak dalam kandungan hingga ditimang-timang menjadikan perempuan adalah sosok penyelamat dan menyelatmatkan.
Hal ini sejalan dengan buah pikir bapak Proklamator dalam karyanya Di Bawah Bendera Revolusi (Ir. Soekarno, Cetakan Pertama 1959: 97), menjelaskan jika kaum laki-laki masih banyak yang mengira bahwa perjuangannya mengejar keselamatan nasional bisa juga lekas berhasil berkat sokongan kaum ibu.
Disamping itu, juga masih belum banyak tertanam keyakinan bahwa tiada keselamatan nasional bila tidak terpikul oleh keselamatan kaum bapak dan kaum ibu, dan bahwa keselamatan nasional yang demikian itu adalah keselamatan nasional yang pincang.
Bung Karno mengomentari perihal ini saat kongres kaum perempuan pada 22 Desember 1928, dikatakannya bahagialah kongres kaum ibu, maka bangsa sangatlah bergembira hati, karena kaum bapak masih banyak yang kurang pengetahuan akan harganya sokongan atau dukungan kaum ibu.
Namun tidak saja bergembira hati akan kongres tersebut, dikarenakan kaum laki-laki belum insyaf akan keharusannya dalam menaikan derajat kaum perempuan.
Disamping itu atas terselenggaranya kongres tersebut, karena kalangan perempuan sendiri juga belum banyak yang mengetahui atau menjalankan kewajibannya ikut menceburkan diri didalam perjuangan bangsa, disatu sisi belum banyak yang berkehendak terhadap kenaikan derajat kaum perempuan.
Lebih lanjut, Soekarno juga menyadari jika adat-istiadat yang berabad-abad, adatistiadat yang sudah berurat akar adalah menyebabkan banyak kaum perempuan bangsa Indonesia tak memikirkan soal kenaikan derajat, malahan ada yang memusuhi usaha kenaikan derajat perempuan.
Menurut Soekarno, agama Islam yang asli tidak merendahkan derajat kaum perempuan bahkan mempunyai tokoh-tokoh perempuan yang ternama dan termasyhur, yang adalah Fatimah Az-zahrah, yang kerap kali ikut duduk berunding tentang soal-soal yang penting.
Ada juga Zubaidah permaisuri Harun Al-Rasyid yang menopang secara finansial perjuangan membuat jalan air di Mekkah dan mendirikan kembali Kota Alexandria sesudah kota tersebut dilebur oleh bangsa Griek, Dikatakan Soekarno, laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung, yang jika dua sayap itu dibikin sama kuatnya, lantas terbang menempuh udara sampai ke puncak kemajuan yang setinggi-tingginya.
Baca juga: Dinkes Buka Suara Soal Kematian Bayi di Halmahera Tengah, Ironi di Daerah Kaya Sumber Daya Alam
Maksud dari tulisan ini, menuntut supaya semua pintu harus dibuka seluas-luasnya untuk kalangan perempuan dalam menuntut persamaan hak dan persamaan derajat di pentas sosial-politik.
Oleh sebab itu kerangkeng kultural yang digunakan kaum politis laki-laki mesti dibantah dengan alasan masuk akal, karena catatan keberhasilan peran perempuan saat memimpin cukup mencengangkan.
Akhirnya pihak elektorat mesti kukuhkan kecenderungan, buanglah dilema demi perubahan, karena masa depan harus direncanakan atas disiplin diri dan taktik perjuangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Dilema-Gender-dan-Politik-Maluku-Utara.jpg)