Halmahera Selatan
Proses Operasi Pasien Disoal, Direktur RSUD Labuha Buka Suara: Itu Tindakan Medis
Muhammad Idris (67), warga Desa Pasipalele, Kecamatan Gane Barat, mempersoalkan hasil operasi istrinya
Penulis: Nurhidayat Hi Gani | Editor: Mufrid Tawary
TRIBUNTERNATE.COM, BACAN - Muhammad Idris (67), warga Desa Pasipalele, Kecamatan Gane Barat, mempersoalkan hasil operasi istrinya, Nasia Muhammad (52), di RSUD Labuha, Halmahera Selatan.
Istri Idris diketahui menjalani operasi pembukaan Batu Empedu pada Selasa (9/1/2024) kemarin.
Pria 67 tahun itu menilai, dokter gagal melakukan diagnosa penyakit sebelum pelaskanaan operasi.
Pasalnya, Batu Empedu di dalam tubuh istrinya, disebut sudah terlepas dari bungkusan. Namun saat dilakukan operasi, dokter malah beralasan Batu Empedu itu tak bisa diangkat.
"Dokter bilang kalau Batu Empedu itu bisa diangkat, tapi saat dioperasi, tidak bisa diangkat. Sehingga operasi dihentikan," ujar Idris, Rabu (10/1/2024).
"Saya tandatangab persetujuan operasi ini karena hasil USG itu dokter bilang Batu Empedu sudah terlepas dari bungkusannya, sehingga harus dioperasi," jelasnya.
Idris mengaku sangat dirugikan atas tindakan yang diambil dokter di RSUD Labuha. Karena, perut istrinya telah dibelah namun tidak ada hasil yang baik.
"Yang operasi itu dokter Ferdian Hidayat. Ini setelah operasi, dia bilang tunggu luka yang sudah dibelah itu hilang baru operasi lagi," tutur dia.
Baca juga: Dugaan Perdagangan Barang Berbahaya, Polres Halmahera Selatan Periksa Pemilik Sianida di Jakarta
Terpisah, Direktur RSUD Labuha Ferdian Hidayat mengakui bahwa dirinya yang menangani pasien pengidap penyakit Batu Empedu tersebut.
Menurutnya, langkah yang diambilnya itu sudah sesuai. Jika tidak, akan mencederai organ tubuh yang lain.
"Karena Batu Empedunya itu masih lengket dengan lambung juga. Kalau kita paksa cari empedunya, itu berbahaya," ujarnya.
Ferdian menyebut sudah ada infeksi berat di Batu Empedu pasien itu. Sehingga, proses operasi yang dilakukannya adalah untuk pembersihan infeksi.
Ia juga menjelaskan, dalam proses operasi pasti ada risiko yang dialami. Karena itu, dokter pasti memikirkan jalan keluar untuk keselamatan pasien.
"Saya panggil keluarganya masuk dalam ruangan operasi dan lihat kondisi pasien. Saya bilang, kalau kita paksa, maka mencederai organ-organ tubuh yang lain," jelasnya.
"Kenapa kita tidak operasi lanjut, karena kita berfikir keselamatan pasien. Kita tidak mungkin paksa angkat Batu Empedu itu, lalu kemudian pasien lebih jelek kondisinya," tambah dia.
Ferdian pun menegaskan, langkah yang diambilnya ini tidak masuk dalam kategori penundaan operasi ataupun malpraktek.
Ia mengatakan operasi dapat dilanjutkan kembali jika kondisi pasien sudah stabil.
"Operasi itu ada tahap-tahap, jadi yang kita lakukan itu operasi pembersihan infeksi. Jadi ini bukan gagal operasi atau penundaan, tapi ini adalah operasi," pungkasnya. (*)
Rapimpurda Tak Tuntas, Dialog Kepemudaan KNPI Halmahera Selatan Ricuh |
![]() |
---|
Berkas dan 3 Tersangka Bom Ikan di Perairan Halmahera Selatan Diserahkan ke Jaksa |
![]() |
---|
Satlantas Polres Halmahera Selatan: Laka Tunggal Renggut Nyawa Gugun Udin Murni Kecelakaan |
![]() |
---|
Polres Halmahera Selatan Diminta Usut Laka Tunggal di Kawasan GOR yang Tewaskan Gugun Udin |
![]() |
---|
Baznas Halmahera Selatan Bantu Biaya Pengobatan Pasien Penderita Tumor |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.