Rabu, 8 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Hasil Riset: Pengguna ChatGPT Alami Penurunan Aktivitas Otak

Hasil analisis EEG menunjukkan kelompok yang menggunakan alat bantu ChatGPT secara keseluruhan, mengalami penurunan aktivitas otak sebanya 55 persen

Editor: Munawir Taoeda
Tribunnews.com/Digital Trends
TEKNOLOGI: Ilustrasi logo OpenAI dan ChatGPT 

TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Menurut hasil riset, pengguna ChatGPT bisa mengalami penurunan aktivitas otak.

Dilansir KOMPAS.com, kehadiran alat bantu (tools) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT, ternyata memiliki dampak negatif terhadap otak manusia.

Chatbot model bahasa besar (LLM) tersebut bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis seseorang, terutama jika digunakan secara terus-menerus tanpa diimbangi proses berpikir mandiri.

Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang mengungkap temuan ini.

Baca juga: Bisa Didaftar Hari Ini, 2 Sekolah Kedinasan 2025 Tanpa Tinggi Badan

Dipimpin oleh Dr. Nataliya Kosmyna dari MIT Media Lab, peneliti menyebut bahwa kelompok yang rutin menggunakan bantuan ChatGPT dalam menulis tugas esai, ternyata mengalami penurunan signifikan pada aktivitas otaknya.

TEKNOLOGI: Ilustrasi logo OpenAI dan ChatGPT
TEKNOLOGI: Ilustrasi logo OpenAI dan ChatGPT (Digital Trends)

Diuji ke tiga kelompok berbeda

Dalam studi bertajuk "Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using AI Assistant for Essay Writing Task", pengujian ini dilakukan dengan melibatkan 54 mahasiswa yang tinggal di kawasan Boston, AS.

Seluruh mahasiswa tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok berbeda dan masing-masing dari mereka diminta untuk menulis esai dalam waktu 20 menit dengan metode bantuan yang berbeda-beda.

Adapun kelompok pertama yaitu Brain-only. Sesuai namanya, kelompok ini diharuskan menulis esai tanpa bantuan alat apapun, termasuk ChatGPT.

Kelompok kedua adalah search engine. Kelompok ini diperbolehkan menulis esai dengan alat bantu dari mesin pencari yang tersedia di internet.

Kelompok ketiga yakni ChatGPT. Dalam pengujiannya, kelompok ini diminta untuk menulis esai sepenuhnya dengan bantuan chatbot AI GPT-4o. 

Tiga kelompok tersebut kemudian diarahkan untuk menulis esai sambil dilakukan perekaman otak.

Ada pun perekaman ini dilakukan dengan memasang alat pemantau berupa headset elektroensefalogram (EEG) di kepala mereka.

Alat EEG ini nantinya akan merekam aktivitas otak masing-masing pengguna, termasuk tingkat konsentrasi dan beban kerja kognitif mereka selama proses menulis esai berlangsung.

Pengujian ini dilakukan empat kali selama beberapa bulan. Nah, hasil perekaman inilah yang kemudian menjadi dasar utama analisis para peneliti untuk melihat sejauh mana perbedaan aktivitas otak antar kelompok yang menulis esai dengan metode bantuan berbeda-beda.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved