Kamis, 23 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemprov Malut

Sukur Lila Beberkan Kondisi Industri Kayu di Maluku Utara

Salah satu faktor utama adalah perubahan preferensi masyarakat dalam membangun rumah, yang kini lebih memilih menggunakan baja ringan ketimbang kayu

Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Sitti Muthmainnah
TribunTernate.com/Fizri Nurdin
INDUSTRI - Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Sukur Lila, mengungkapkan, penurunan permintaan kayu turut menekan harga di pasaran. Selain karena biaya produksi yang tinggi, kini kayu juga semakin tersisih oleh material bangunan modern yang dianggap lebih praktis dan tahan lama, hal itu ia sampaikan saat ditemui wartawan di Hotel Sahid Bela Ternate, Rabu (16/7/2025) 

TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI – Industri kehutanan di Provinsi Maluku Utara kian terpuruk.

Salah satu faktor utama adalah perubahan preferensi masyarakat dalam membangun rumah, yang kini lebih memilih menggunakan baja ringan ketimbang kayu.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Sukur Lila, mengungkapkan, penurunan permintaan kayu turut menekan harga di pasaran.

Baca juga: Vintinha Tidak Berhak Salip Peringkat Caicedo, Fans Chelsea: Ini Pasti Bercanda

Selain karena biaya produksi yang tinggi, kayu juga semakin tersisih oleh material bangunan modern yang dianggap lebih praktis dan tahan lama.

“Harga kayu turun karena sekarang masyarakat lebih banyak menggunakan baja ringan untuk membangun rumah,” ungkap Sukur saat ditemui wartawan di Hotel Sahid Bela Ternate, Rabu (16/7/2025).

Ia menambahkan, pergeseran gaya hidup masyarakat juga ikut memengaruhi keberlangsungan industri pengolahan kayu seperti plywood. 

Sejumlah pabrik pengolahan kayu di beberapa daerah seperti Kepulauan Sula, Halmahera Barat, dan Halmahera Selatan, dilaporkan telah menutup operasionalnya akibat kekurangan bahan baku.

Kondisi ini semakin menekan industri kehutanan, terutama karena semakin sedikit tenaga kerja yang bertahan. 

Kata Sukur Lila, banyak karyawan perusahaan kayu kini beralih ke sektor pertambangan, yang menawarkan penghasilan lebih tinggi.

Baca juga: JKT48 Kolaborasi Bareng Shopee! MV Baru "Lebih Hemat, Lebih Cepat" Banjir Komentar Positif

“Kita tidak bisa pungkiri, tambang menjadi magnet baru bagi tenaga kerja,” tegas Sukur.

Saat ini, hanya dua perusahaan kayu yang masih bertahan, yaitu PT Poleko dan PT Telaga Baki. Namun, keduanya pun menjalankan operasional secara terbatas.

“Yang masih beroperasi hanya dua perusahaan itu. Itu pun produksinya tidak rutin, kadang hanya Senin sampai Kamis. Dalam sebulan, belum tentu ada produksi. Biaya operasionalnya besar, jadi mereka harus benar-benar hitung untung-ruginya,” jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved