Pemprov Malut
Sukur Lila Beberkan Kondisi Industri Kayu di Maluku Utara
Salah satu faktor utama adalah perubahan preferensi masyarakat dalam membangun rumah, yang kini lebih memilih menggunakan baja ringan ketimbang kayu
Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Sitti Muthmainnah
TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI – Industri kehutanan di Provinsi Maluku Utara kian terpuruk.
Salah satu faktor utama adalah perubahan preferensi masyarakat dalam membangun rumah, yang kini lebih memilih menggunakan baja ringan ketimbang kayu.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Sukur Lila, mengungkapkan, penurunan permintaan kayu turut menekan harga di pasaran.
Baca juga: Vintinha Tidak Berhak Salip Peringkat Caicedo, Fans Chelsea: Ini Pasti Bercanda
Selain karena biaya produksi yang tinggi, kayu juga semakin tersisih oleh material bangunan modern yang dianggap lebih praktis dan tahan lama.
“Harga kayu turun karena sekarang masyarakat lebih banyak menggunakan baja ringan untuk membangun rumah,” ungkap Sukur saat ditemui wartawan di Hotel Sahid Bela Ternate, Rabu (16/7/2025).
Ia menambahkan, pergeseran gaya hidup masyarakat juga ikut memengaruhi keberlangsungan industri pengolahan kayu seperti plywood.
Sejumlah pabrik pengolahan kayu di beberapa daerah seperti Kepulauan Sula, Halmahera Barat, dan Halmahera Selatan, dilaporkan telah menutup operasionalnya akibat kekurangan bahan baku.
Kondisi ini semakin menekan industri kehutanan, terutama karena semakin sedikit tenaga kerja yang bertahan.
Kata Sukur Lila, banyak karyawan perusahaan kayu kini beralih ke sektor pertambangan, yang menawarkan penghasilan lebih tinggi.
Baca juga: JKT48 Kolaborasi Bareng Shopee! MV Baru "Lebih Hemat, Lebih Cepat" Banjir Komentar Positif
“Kita tidak bisa pungkiri, tambang menjadi magnet baru bagi tenaga kerja,” tegas Sukur.
Saat ini, hanya dua perusahaan kayu yang masih bertahan, yaitu PT Poleko dan PT Telaga Baki. Namun, keduanya pun menjalankan operasional secara terbatas.
“Yang masih beroperasi hanya dua perusahaan itu. Itu pun produksinya tidak rutin, kadang hanya Senin sampai Kamis. Dalam sebulan, belum tentu ada produksi. Biaya operasionalnya besar, jadi mereka harus benar-benar hitung untung-ruginya,” jelasnya. (*)
| Rp 2,9 Triliun Diusulkan untuk Percepat Pembangunan Sofifi |
|
|---|
| Gubernur Maluku Utara Kawal Pembangunan Sabo Dam, Ternate Disiapkan Lebih Tangguh Hadapi Bencana |
|
|---|
| Ekonomi Tumbuh 34 Persen, Gubernur Maluku Utara Beberkan PR Besar di Hadapan Komisi V DPR RI |
|
|---|
| Hadapi Ancaman Inflasi dan Cuaca Ekstrem, Gubernur Maluku Utara Sherly Laos Dorong Strategi 4K |
|
|---|
| Komisi V DPR RI Soroti Sejumlah Infrastruktur, di Antaranya Huntap Korban Banjir Bandang di Ternate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/kondisi-industri-kayu-di-Malut-Sukur-Lila.jpg)