Halmahera Timur
Lagi, Warga Desa Fayaul Haltim Blokade Jetty PT JAS: Tuntut Transparansi dan Pemulihan Lingkungan
Bagi warga Desa Fayaul, Halmahera Timur, perjuangan ini bukan hanya soal kerugian ekonomi, melainkan perlindungan hak dasar atas lingkungan hidup
Penulis: Amri Bessy | Editor: Munawir Taoeda
Ringkasan Berita:1. Warga Desa Fayaul, Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur bersama sejumlah aliansi kembali blokade jetty PT JAS, Kamis (23/4/2026)
2. Aksi ini dilakukan dengan tajuk "Laut Bukan Milik Korporasi, Hidup Kami Bukan Objek Eksperimen"
3. Bagi warga Desa Fayaul, perjuangan ini bukan hanya soal kerugian ekonomi, melainkan perlindungan hak dasar atas lingkungan hidup
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Aliansi Masyarakat Budidaya Rumput Laut Bergerak (AMBRUK) bersama warga Desa Fayaul, Kecamatan Wasile Selatan, dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Halmahera Timur, Maluku Utara menggelar aksi protes dengan memblokade jetty PT Jaya Abadi Semesta (JAS), Kamis (23/4/2026).
Aksi yang mengusung tajuk "Laut Bukan Milik Korporasi, Hidup Kami Bukan Objek Eksperimen" ini merupakan bentuk protes atas dugaan kerusakan lingkungan pesisir yang mengancam mata pencaharian warga.
Kronologi dan tuntutan warga
Koordinator Lapangan AMBRUK Julfian Wahab mengungkapkan, kualitas air di perairan mereka terus menurun, yang berdampak langsung pada kematian budidaya rumput laut yang menjadi sumber ekonomi utama masyarakat.
Baca juga: DPRD Halmahera Timur Desak PT JAS Tanggung Jawab Kerusakan Budidaya Rumput Laut Desa Fayaul
Warga merasa telah menempuh jalur persuasif sejak 22 November 2025, akan tetapi hingga aksi ini digelar atau selama 152 hari mereka menilai tidak ada iktikad baik dari perusahaan maupun negara untuk memberikan kepastian.
"Kesabaran kami sudah cukup lama diuji. Ketika tidak ada kepastian, maka perlawanan menjadi pilihan, "tegas Julfian.
Polemik transparansi data
Salah satu poin utama protes ini adalah ketidakjelasan hasil uji laboratorium.
Pada 13 Desember 2025, tim Enviro PT JAS sempat mengambil sampel air dan rumput laut serta melakukan pendataan.
Namun hingga 131 hari berselang, hasil tersebut tidak pernah diumumkan kepada publik.
Masyarakat mengaku tidak mengetahui laboratorium yang digunakan, metode pengujian maupun hasil analisisnya.
"Data diambil dari masyarakat, tapi hasilnya tidak pernah disampaikan. Ini menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan, "tambah Julfian.
Kondisi ini diperparah dengan temuan tim pakar dari Universitas Khairun pada 10 Desember 2025.
Kajian ilmiah tersebut mengindikasikan adanya kontribusi aktivitas industri terhadap penurunan kualitas perairan.
Meski telah ada rekomendasi ilmiah, warga menilai belum ada langkah pemulihan lingkungan yang konkret dari pihak terkait.
| Sidak Intens Ricky Richfat Tuai Apresiasi, Dorong Profesionalisme ASN Pemkab Haltim |
|
|---|
| Harga Dexlite di Halmahera Timur Melonjak Tajam Jadi Rp 24.150 per Liter, Sopir Truk Mengeluh Pasrah |
|
|---|
| Dituding Selingkuh dengan Oknum Polisi, Istri Warga Haltim Akui Hanya Komunikasi Biasa |
|
|---|
| Kolaborasi Pemkab Haltim–Antam Dinilai Tepat Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan |
|
|---|
| Perkuat Pasukan Hadapi Potensi Konflik Sosial, Ini yang Disampaikan Kapolres Halmahera Timur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Desa-Fayaul-Kecamatan-Wasile-Selatan-Halmahera-Timur-kembali-blokade-jetty-PT-JAS.jpg)