Menyapa Nusantara 2025
Ketika Darat dan Laut Bertaut
Penyusunan peta jalan industri agromaritim 2025–2029 Pemerintah NTB menandai upaya serius untuk menata ulang arah pembangunan berbasis potensi lokal
Hilirisasi menjadi kata kunci, sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong peningkatan nilai tambah di daerah. Fokus pada industri halal juga memberi keunggulan tersendiri, mengingat pasar halal global terus tumbuh dan produk NTB memiliki keunggulan bahan baku alami.
Meski demikian, risiko pendekatan sektoral tetap mengintai. Agromaritim tidak akan efektif jika hanya menjadi proyek dinas atau berhenti sebagai dokumen perencanaan.
Tantangan lintas sektor, seperti tata ruang pesisir, konflik pemanfaatan laut, keberlanjutan lingkungan, hingga dampak perubahan iklim membutuhkan koordinasi yang kuat.
Tanpa integrasi kebijakan, industri bisa tumbuh dalam jangka pendek, tetapi sumber daya alamnya justru terdegradasi.
Hulu hilir
Kekuatan utama agromaritim terletak pada kemampuannya menghubungkan desa dengan pasar yang lebih luas. Pengembangan sentra agromaritim di beberapa wilayah menunjukkan bahwa industri pengolahan mampu menciptakan efek ganda bagi perekonomian lokal.
Keberadaan pabrik pengolahan porang, misalnya, tidak hanya meningkatkan harga jual komoditas, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong tumbuhnya usaha pendukung di sekitarnya.
Kolaborasi dengan jejaring industri halal nasional membuka peluang lain. Produk berbasis kelapa, gula aren, kopi, dan rempah-rempah memiliki peluang menembus pasar yang lebih besar jika memenuhi standar mutu dan keberlanjutan.
Dalam konteks ini, peran pemerintah menjadi krusial, bukan sebagai pelaku bisnis, melainkan sebagai fasilitator yang memastikan standar, sertifikasi, dan akses pasar dapat dijangkau oleh pelaku usaha kecil dan menengah.
Agromaritim juga harus ditempatkan dalam kerangka ekonomi biru. Pemanfaatan laut tidak boleh merusak ekosistem yang menjadi sumber kehidupan jangka panjang.
Budi daya berkelanjutan, penangkapan terukur, pengelolaan sampah laut, dan konservasi pesisir harus berjalan seiring dengan pertumbuhan industri. Tanpa prinsip keberlanjutan, agromaritim justru berpotensi menciptakan krisis baru di masa depan.
Aspek sumber daya manusia menjadi faktor penentu berikutnya. Industrialisasi berbasis sumber daya alam membutuhkan tenaga terampil, inovator lokal, dan pendamping usaha yang memahami karakter wilayah.
Tanpa investasi pada pendidikan vokasi, riset terapan, dan transfer teknologi, daerah akan kembali bergantung pada aktor luar, meskipun bahan bakunya berasal dari wilayah sendiri.
Menjaga arah
Agromaritim bukan sekadar jargon pembangunan baru. Ia adalah pilihan strategis untuk membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Kontribusi-subsektor-perikanan-terhadap-PDRB-Provinsi-NTB-meningkat.jpg)